Perkembangan karya Sastra dan Media cetak Masa Kolonialisme Hindia-Belanda



Iman tanpa ilmu bagaikan lentera ditangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan seorang pencuri

Karya sastra saat ini sudah sangat dikenal baik remaja maupun orang dewasa. Namun tahukah kamu karya sastra di Indonesia sudah ada sejak zaman Kolonial. Belanda merupakan Negara Eropa yang sudah cukup lama datang ke Indonesia dan dipercaya sebagai awal mula munculnya karya sastra dan juga media cetak ketika zaman Belanda menjajah Indonesia.

Adanya peninggalan berupa karya tulis membuat kita bisa mengetahui seperti apa kehidupan dimasa lalu melalui kisah-kisah ataupun peninggalan berupan tulisan yang membuat kita semakin penasaran untuk mempelajari dan juga menghargai sejarah.

Dengan begitu banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran bahwa rasa nasionalisme yang kita miliki tidak dapat dihancurkan oleh apapun, terlepas dari berbagai macam kebudayaan, etnis, ras, suku, pemikiran namun tidak bisa dihilangkan begitu saja. 

Semoga negara kita bisa menjadi negara yang semakin kuat kedepan nya dan juga  menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan hingga bangsa asing segan untuk datang menghancurkan bangsa ini. 

Terlepas dari berbagai hal tersebut terdapat beberapa perkembangan seperti adanya karya sastra dan juga media cetak dimasa kolonialisme Belanda di Indonesia.

Pengertian Singkat Karya Sastra

Karya sastra bisa juga berupa cerita seseorang atau kelompok masyarakat yang bercerita mengenai pengalaman maupun kondisi atau keadaan yang terjadi sesuai dengan apa yang mereka alami, terkadang juga berisi buah pikiran dari seseorang.

Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan juga media yang ada sehingga membuat perkembangan sastra semakin dikenal luas oleh masyarakat. 

Karya sastra di Indonesia yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat seperti legenda, mitos, hingga hikayat. semakin lama karya sastra juga ikut berkembang dengan munculnya novel maupun cerita roman.

Perkembangan Karya Sastra dan Media Cetak Masa Kolonial

Indonesia sendiri pada masa kolonial Belanda menyebut sastra dengan nama Sastra Hindia. Karya sastra tersebut memiliki jalan cerita yang ke Indonesiaan namun menggunakan bahasa Belanda. 

Sastrawan Belanda banyak menulis mengenai kondisi Nusantara saat itu beberapa yang terkenal seperti Rijklof Van Goens yang menulis tentang kerajaan Mataram ia merupakan seorang elit di pemerintahan VOC kala itu.

karena ia memiliki banyak pengalaman hingga minat menulis dan kemudian ia menulis sastra tersebut. Selain itu ada juga Francois Valentijn dengan suatu karya yang terkenal yaitu Oud En Niew Oost Indien jika diterjemahkan berarti Hindia Timur.

Dulu dan Kini karya ini diterbitkan 1724 hingga 1726 dengan 8 jilid buku. Selain itu Perkembangan karya sastra semakin pesat VOC memiliki percetakan sendiri dan juga pembaca setiap jika sekarang bisa berupa surat kabar atau koran.

Karya sastra berbahasa Melayu yang pertama, terbit pada abad ke-19 dengan pengarangnya adalah Abdullah bin Muhammad al-Misri pada tahun 1823 dan diikuti oleh Abdullah bin  Abdul khadir pada tahun 1838.

Karya sastra tersebut memiliki latar masyarakat tradisional dan pinggiran. Kemudian pada tahun 1855 terbit karya sastra Eropa yang kemudian dalam penulisannya sudah menggunakan bahasa melayu dengan pengarangnya adalah 

Defoe, Robinson Crusoe di Singapura dan juga Batavia tahun 1875, selain itu dalam 5 edisi berikutnya muncul yang berbahasa Jawa tahun 1881.

Semakin berkembangan karya sastra pada awal abad ke 19 membuat media cetak seperti koran atau surat kabar sebagai media informasi semakin berkembang walaupun masih menggunakan bahasa Belanda saat itu. 

Sebenarnya Media cetak Belanda sudah ada di Hindia Belanda sejak tahun 1659 namun belum begitu populer dan masih menggunakan bahasa Belanda sepenuhnya selain itu dirasa saat itu media tersebut belum begitu penting.

Pada saat itu Media tersebut bernama Bataviasche Koloniale Courant atau Berita Singkat dari Eropa merupakan surat kabar pertama yang terbit di Batavia tahun 1676. Pokok bahasannya dari negara seperti Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Denmark hingga Inggris. 

Memang media cetak sudah berkembang saat itu namun belum ada satupun yang berbahasa Indonesia ataupu  melayu barulah awal abad ke 19 banyak surat kabar yang menggunakan bahasa Indonesia ataupun Melayu.

Pada masa itu juga terdapat Karya sastra yang berisi kritik sosial terhadap pemerintahan Belanda yang di tulis oleh E.F.E Duwes Dekker dengan nama samaran Multatuli karena saat itu segala kritik terhadap pemerintah Belanda sangat dilarang karya tersebut berjudul Max Havellar Of De Koffij Veillingen der Netherlandsche Handel Maatschappij 

yang berarti lelang Kopi Maskapai/Perusahaan Dagang Belanda. Buku karangan Douwes Dekker ini sangat fenomenal hingga saat ini terbukti banyak sekali pelajaran mengenai karya sastranya tersebut yang berisi kritikan terhadap kekejaman Bangsa Belanda terhadap masyarakat Pribumi saat itu.

Pada saat itu muncul juga Karya saatra dari orang-orang asli Indonesia namun belum se ekstrim karya Multatuli yang terang-terangan mengkritik pemerintah Belanda. Karya tersebut seperti P.A.A Djajadiningrat bercerita mengenai biografi, Buiten het gareel dengan judul diluar jalur karya Suwarsih Djojopuspito.

Surat kabar pertama di Indonesia
Surat Kabar Pertama berbahasa Melayu Tahun 1856 (Source Adam, 2003)
Selain itu sebelumnya pada tahun 1855 telah muncul Surat kabar menggunakan bahasa Jawa terbitan dari Bromartani.

Pemiliki percetaan Surat kabar tersebut ialah C.F. Winter Sr dan Gustaaf Winter. Surat kabar tersebut rutin keluar pada hari Kamis, di Surakarta. Bahas yang digunakan yaitu Kromo Inggil. 

Hal yang dibahas pada surat kabar tersebut membahas masalah pendidikan, budaya serta kondisi saat itu atau masalah lain yang bersifat idealis.

koran jawan pertama surat kabar berharga
Koran Bahasa Jawa Pertama Tahun 1855, (Source Adam 2003)
Pada perkembangannya terutama pada abad ke 19 M. Dengan berkembangnya pemikiran dan juga paham yang dianut oleh Bangsa Eropa terutama banyak karya Sastra yang bercampur dengan aliran sepert Marxisme, Kapitalisme, Individualisme dan lain-lain. 

Bangsa barat memang berlandaskan Individualisme dan juga Materialisme saat itu sehingga munculah slogan I'art Poor I'art yang berarti senin untuk seni. Di Indonesia juga semakin banyak penerbit seperti Bintang Oetara tahun 1857, Soerat Kabar bahas Melaijoe merupakan perintis surat kabar besar di jawa saat itu. 

Bangsa Eropa sejak abad ke 17 sudah mulai merintis mengenai Karya Sastra dan juga media cetak walaupun kondisinya masih sangatlah sederhana namun sudah cukup menarik minat pembaca.

kendati demikian selain untuk mencari uang media tersebut juga dapat digunakan sebagai solusi untuk melakukan kritik terhadap pemerintah, kelompok tertentu, hingga rakyat itu sendiri.

Dengan kata lain media seperti karya sastra dan juga media cetak berguna juga sebagai dokumentasi atas segala peristiwa yang terjadi di Eropa maupun di Hindia Belanda sehingga dengan beberapa sumber media tersebut kita masih bisa men terjemahkan 

dan membayangkan kondisi Indonesia pada zaman Kolonialisme Belanda sehingga betapa pentingnya hal tersebut bagi Bangsa Indonesia terutama dalam mempelajari sejarah.

Demikian penjelasan Perkembangan Sastra dan juga media cetak masa Kolonialisme Belanda di Indonesia semoga bermanfaat jangan lupa di Share ya  👍

Referensi : Buku Sejarah Nasional Indonesia oleh Eko Praptanto 👈

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel