Perlawan rakyat Padri terhadap penjajahan

buanadelta.blogspot.com
Kegagalan bukanlah akhir melainkan awal dari kemenangan

LATAR BELAKANG PERANG PADRI


Kali saya akan membahas materi mengenai Perlawanan Rakyat Sumatera terhadap Kolonialisme dimulai dari Perlawanan Rakyat Padri. Tapi jika kalian sedang mencari pengertian tentang materi Kolonialisme dapat dibaca terlebih dahulu: 

👉Pengertian Kolonialisme dan Imperialisme dan juga Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia Baiklah mari kita lanjutkan mengenai perlawanan rakyat padri terhadap penjajah.

Pada awal abad ke 16 Masehi masyarakat di Minangkabau telah banyak banyak yang sudah menganut agama islam dan memiliki kebiasaan dalam masyarakat yang telah dianut sebagai adat-istiadat dari tradisi islam itu sendiri. Masyarakat sangat 

menghargai pola hidup tersebut dan munculah istilah adat besandi syara atau syarat besandi adat. Sayangnya Kebiasaan yang dianut masyarakat Minangkabau ini ini tidak bisa bertahan lama. Raja yang meminpin saat itu berada di Pagaruyung.

Setiap wilayah atau suku yang ada pada saat itu memiliki dewan nageri sebenarnya dewan nageri ini memiliki kekuasaan yang lebih dibandingkan dengan raja pada saat itu karena merupakan orang-orang yang di segani di setiap suku saat itu termasuk raja sekalipun. 

Selain itu dewan nageri kebanyakan merupakan seorang bangsawan, Perpedaaan pendapatlah yang membuat perpecahan antara kaum adat dan kaum padri yang menjunjung tinggi agama islam 

dan ingin menunjukkan ajaran islam yang benar karena pada saat itu banyak ajaran islam yang sudah menyimpang sehingga banyak kegiatan seperti berjudi, mabuk-mabukan serta kegiatan maksiat lainnya sehingga terjadilah perang saudara.

PERANG SAUDARA ANTARA KAUM ADAT DAN KAUM PADRI

Pada saat itu ada seorang ulama bernama Tuanku kota tua, ia mengajarkan segalanya tentang islam dan dia dikenal dengan istilah pembaruan. istilah tersebut dikenal dengan kaum padri. 

Tuanku kota tua memiliki murid yang bernama Tuanku Nan Renceh dari kampung Bansa, ia merupakan seorang yang pandai dan memiliki ilmu yang luas tentang islam saat itu. kemudia pada tahun 1803 datang 3 ulama baru yang berasal dari Mekah mereka adalah Haji Miskin, 

Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka berkamsud ingin membantu meluruskan ajaran agama islam yang sudah menyimpang pada saat itu.

Pada suatu hari Haji Miskin bertemu sekolmpok orang di salah satu  kampung dan melarang kegiatan mereka dalam menyabung ayam namun hal tersebut tidak digubris oleh masyarakat sehingga Haji Miskin berusahan menegur para kaum Adat yang memiliki kewenangan saat itu dan disegani oleh masyarakat.

Hal tersebut juga tidak digubris oleh kaum adat dan menganggap hal tersebut sebagai tradisi mereka.Haji Miskin kemudian membakar tempat sabung ayam tersebut dan kemudian hal tersebut membuat kemarahan para kaum Adat saat itu, 

sehingga Haji Miskin berusaha untuk dibunuh namun berhasil melarikan diri ke Kampung Kamang disinilah ia bertemu dengan Tuanku Nan Renceh yang merupakan murid dari Tuanku Kota Tua.  

Sejak saat itu mereka bekerja sama untuk lebih giat dalam mengajarkan agama islam dan berusaha untuk melawan kaum adat yang sudah dianggap meyimpan dari ajaran islam.

Peperangan dengan kaum adat pada saat itu sudah tidak bisa dihindari lagi karena kondisi semakin panas pada saat itu dan terjadilah peperangan antara kaum padri yang dipimpin oleh 8 ulama yaitu Tuanku Nan Renceh, Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Berapi, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Padang Luar, Tuanku Biaro, 

Tuanku Kapau, dan Tuanku Galung mereka kemudian dikenal dengan Harimau Nan Salapan. sedangkan Kaum Adat dipimpin oleh Sultan Arifin Muningsyah, namun karena solidnya Kaum Paderi membuat Kaum Adat terdesak dan mengalami kekalahan sehingga beberapa suku dari kaum adat lebih memilih untuk masuk ke pedalaman dari pada mau bergabung dengan ajaran islam. 



BELANDA IKUT CAMPUR DALAM PERANG PADRI

Kaum adat yang saat itu terdesak ke pedalaman kemudian meminta bantuan kepada bangsa asing yang datang ke Sumatera Barat saat itu, awalnya pada 1818

Inggris dipimpin oleh Thomas Stanford Rafles mendarat di pantai Sumatera Barat, dan mendirikaan marks di sekitar Air Bangis, Padang hingga ke Pulau Cungkuk.

Kaum Adat awalnya meminta bantuan kepada bangsa Inggris untuk membantunya dalam melawan kaum Padri yang saat itu berhasil menguasai kerajaan

di Pagaruyung akan tetapi permintaan itu ditolak oleh bangsa Inggris dan Rafles sendiri lebih tertarik untuk membantu kaum Padri akan tetapi kaum Padri menolak yang saat itu dipimpin oleh Muhammad Shahab atau lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol.

Akan tetapi hal tersebut ditolak oleh Tuanku Imam Bonjol lantaran ia tidak ingin meminta bantuan kepada bangsa Asing. Kemudian setelah Belanda berhasil menguasai Jawa pasukannya dikerahkan ke wilayah Sumatera Barat pada awal tahun 1821.

Hal tersebut kembali dilakukan oleh Kaum adat untuk meminta bantuan pada Belanda, Kaum adat diwakili oleh Tuanki Saruaso beserta anggotanya membuat kesepakatan dengan Residen Du Puy 

tanggal 10 Februari 1821 tentu kelicikan Belanda agar dapat menguasai tanah Minagkabau semakin terbuka dan mereka berencana untuk menanamm kopi diwilayah tersebut dan kemudian mendirikan benteng Fort de Kock di wilayah Bukit Tinggi.

Sejak saat itu perlawanan antar kaum Padri dengan Kaum adat yang dibantu oleh Belanda terjadi. Pada 10 Juni 1822, terjadi peperangan antara Kaum Padri melawan kaum adat yang dibantu oleh Belanda, akan tetapi banyak pimpinan Kaum Padri yang 
tertangkap. 

Sehingga kaum Padri terpaksa mundur dan pada 14 Agustus 1822 dalam hal ini terjadi peperangan yang dilakukan oleh kaum padri beberapa kali karena mereka menyusun strategi griliya dan menyerang ke beberapa titik dari kekuatan Belanda yang ada di Sumatera Barat saat itu.

Salah satunya Tanjung alam, peperang lagi antara kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh, Kaum Padri berhasil memutuskan jalan yang menghubungkan pos-pos yang dikuasai Belanda menuju Kota Tua dan Tanjung alam, Hal tersebut kemudian dibalas oleh Belanda.

Pada 1825 terjadi lagi peperangan dan menewaskan Kapten Beur di wilayah Agam dan membuat Belanda menyerah, sehingga pada saat itu dibuatlah kesepakatan atara Belanda dengan kaum Padri pada 29 Oktober 1825, dengan isi bahwa Belanda mengakui kekuatan kaum Padri dan wilayah di Lintau IV, Kota, Telawas, Agam merupakan kekuasaan dari kaum Padri.

Terjadi lagi peperangan namun berhasil membuat Belanda mengalami kekalahan untuk yang kesekian kalinya sehingga Belanda menuduh bahwa Kaum Adat tidak sepenuhnya memihak kepada Belanda dan menangkap Sultan Tangkal Alam dan membuangnya ke Batavia.

Belanda kemudian membuat perjanjian yang bernama Plakat Panjang pada 25 Oktober 1833 yang inti dari isinya adalah Bahwa tidak ada lagi genjatan senjata antar kaum Padri dan Belanda dan masyarakat Minang diminta untuk menanam kopi 

sehingga Belanda dapat melakukan Perdagang dengan masyarakat saat itu, namun ternyata itu merupakan strategi yang dibuat oleh Belanda.

Kaum adat dan Kaum Padri kemudian meyadari bahwa mereka hanya di adu domba oleh Belanda terlebih lagi kaum adat merasa bahwa Belanda telah berkhianat karena menangkap Sultan 

Tangkal Alam sehingga sejak 1833 Kaum adat dan Kaum Padri mulai bersatu untuk melawan Belanda. Sampai dengan tahun 1836 kaum Padri dan Kaum Adat masih sangat sulit untuk dikalahkan oleh Belanda.

Sehingga para petinggi Belanda saat itu merasa jengkel dengan perang yang terjadi begitu lama dan banyak menimbulkan korban jiwa sehingga Belanda 

mengerahkan seluruh armadanya dan berusahan untuk mengepung Kaum Padri di wilayah Bonjol dan usaha tersebut akhirnya berhasil dan Tuanku Imam Bonjol kemudian ditangkap dan dibuang ke wilayah Cianjur, Jawa Barat pada 1837.

Kaum Padri dan Kaum adat yang tersisa kemudian mundur ke hutan dan melakukan serangan grilya terhadap Belanda namun usaha-usaha tersebut selalu mengalami kegagalan akhirnya secara resmi peperangan Belanda dengan kaum Padri telah berakahir pada 28 Desember 1838.

Demikian mengenai rangkuman materi sejarah perang padri semoga bermanfaat. salam jas merah.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel