Tahun Baru Imlek serta asal mula sejarahnya di Indonesia

On the long Journey of Human Life, Faith is the best companions
Tahun Baru Imlek merupakan suatu perayaan yang selalu rutin dilakukan setiap tahunnya oleh mereka orang-orang yang masih memiliki keturunan dari Tionghoa Perayaan tahun baru Cina ini hampir diadakan diseluruh negara di Asia salah satunya yaitu negara Indonesia. Indonesia merupakan negara yang cukup banyak penduduk dari etnis Tionghoa.

Ada sekitar 3 juta penduduk yang ber etnis Cina di Indonesia pada survey yang di lakukan pada tahun 2017. Namun tahukah kalian di Indonesia sebelumnya perayaan Imlek dilarang dilakukan di Indonesia. Jadi sejarah dimulainya atau diperbolehkannya tahun baru Imlek pada tahun 2000. 

Peraturan pemerintah atas instruksi presiden Soeharto NO 14 Tahun 1967 melarang keras segala aktivitas atau kegiatan yang berkaitan dengan Tionghoa termasuk merayakan Imlek.

Perayaan Imlek Pada Masa Orde Lama-Orde Baru

Dimulai pada tahun 1946 ketika Indonesia dipimpin oleh Presiden Ir. Soekarno yang membuat ketetapan pemerintah mengenai peraturan keagamaan yang ada di Indonesia No 2 OEM Tahun 1946 pada pasal 4 yang membahas mengenai hari raya Tionghoa yaitu tahun baru Imlek, serta hari wafatnya Konghucu pada tanggal 18 bulan 2 Imlek, Cheng Beng.

(Membersihkan makan leluhur) dan hari lahirnya Konghucu tanggal 27 bulan 2 Imlek menegaskan adanya kegiatan Tinghoa di Indonesia dan menetapkannya sebagai hari libur.

Hal tersebut dibuat untuk menetapkan hari raya orang Tionghoa di Indonesia sebagai kegiatan umat beragama yang ada di Indonesia. Namun sejak runtuhnya orde lama dan di gantikan orde baru yang dipimpin oleh Soeharto hal tersebut dilarang termasuk merayakan kegiatan tahun baru imlek di muka umum. 

Hal tersebut berkaitan dengan usainya G30S PKI, hal tersebut wajar karena pada masa itu dikhawatirkan paham Komunis yang di anut menyebar dan mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang pada saat itu sedang carut marut.

Atas usulan dari berbagai pihak akhirnya Soeharto mnyetujui usulan-usulan mengenai pelarangan agama tinghoa dimuka umum namun beliau tidak setuju jika perayaan orang Tionghoa benar-benar di larang beliau hanya memperbolehkan perayaan dirumah dan lingkungan keluarga saja karena khawatir terjadi penyebaran dan pemberontakan atas paham komunis di Indonesia. Usulan tersebut termuat dalam Impres Presiden No 14 Tahun 1967.

Setelah sekitar 30 Tahun berlalu akhirnya pelarangan tersebut dicabut dan orang-orang Tionghoa di Indonesia bisa bernafas lega dan hal tersebut disambut dengan suka cita ketika Presiden Abdurrahman Wahid.

Sejarah Awal diperbolehkannya Imlek di Indonesia

 Perayaan Imlek sudah ada ketika Presiden Soekarno memimpin Indonesia dan membuat peraturan resmi pada tahun 1946. Presiden Soekarno menetapkan hari raya Imlek serta kegiatan umat tionghoa di Indonesia merupakan hari libur sebagai bentuk solidaritas antar umat beragama di Indonesia. 

Namun hal tersebut berubah ketika Orde Baru berkuasa yang dipimpin oleh Presiden Soeharto beliau membuat peraturan agar perayaan yang berbau Tionghoa tidak dirayakan ditempat umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga saja.

Setelah masuk era 2000an tahun baru Imlek kembali  diperbolehkan ketika Presiden Abdurraman Wahid memerintah. Ketika itu beliau mencabut larangan Inpres No 14 Tahun 1967 dan memberbolehkan agama lain termasuk tionghoa melakukan kebebas beragama termasuk merayakan imlek di Indonesia. 

Peringatan hari raya imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional sesuai dengan peraturan baru No 19 Tahun 2001 pada april 2001. Ketetapan tersebut diaminkan oleh Presiden selanjutnya yaitu Megawati Soekarno Putri pada tahun 2003.

Presiden Abdurrahman Wahid atau yang kita kenal dengan panggilan Gus Dur merupakan Presiden Indonesia yang terkenal dengan Bapak Pluralisme karena beliau sangat menghargai keberagaman di Indonesia seperti keberagaman suku, budaya, agama, dan juga ras yang ada di Indonesia. 

Praktik kegiatan Tahun baru Imlek di Indonesia

Tahun baru Imlek dilakukan di Indonesia sekitar 15 hari. Bagi orang-orang tionghoa hal tersbut wajib dilakukan karena menghormati para leluhur serta ajaran yang mereka anut. Biasanya orang-orang Tionghoa mengunjungi keluarga yang memiliki lingwei (meja abu) untuk melakukan sembahyang. 

Tanggal 8 atau 9 saat cu si  antara jam 23-01.00 umat Tionghoa melakukan sembahyang "King Thi Kong" yang berarti sembahnya untuk Tuhan YME.

Dilakukan didepan pintu rumah atau tempat khusus dengan menghadap langit dengan menggunakan altar dan sesaji yang biasa digunakan.  Kemudian diadakannya Cap Go Meh pada tanggal 15 Imlek sebagai sembahyang hari penutupan pada saat Shen shi antara pukul 15.00-17.00 dan Cu Si pada pukul 23.00-01.00. 

Upacara ini dilakukan untuk mengucapkan Syukur kepada Tuhan YME dan wajib diilakun tidak hanya ketika Imlek saja melainkan hari-hari lainnya ketika mereka melakukan sembahyang.

Demikian materi mengenai hari Imlek di Indonesia jika ada yang kurang atau salah mohon di koreksi mari kita sama-sama belajar dan saling menghargai antar umat beragama, salam Jas Merah 🙌

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel