Sejarah Kerajaan Sriwijaya hingga masa keruntuhannya


Bicara kerajaan Budha di Indonesia tentu akan membahas kerajaan Sriwijaya yang berdiri sejak abad ke 7 Masehi.

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Budha terbesar yang pernah ada di Nusantara The Greatest Kingdom in History of Indonesia bersama dengan Majapahit. 

Hal ini juga berdasarkan bukti temuan prasasti-prasasti mengenai kerajaan Sriwijaya yang tersebar ke berbagai wilayah yang ada di Indonesia. Kerajaan Sriwijaya juga dianggap sebagai tempat belajar agama Budha dari berbagai penjuru.

Hal ini tentunya tidak lagi mengherankan karena pada saat itu kerajaan Sriwijaya merupakan penguasa dari jalur Maritim terbesar dan juga letaknya yang sangat strategis. 

Daerah yang menjadi kekuasaan meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kamboja, Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaya hingga Kalimantan Selatan.

Dengan melihat hal tersebut tentu sangat luar biasa tapi dibalik kegemilangannya apa yang menjadi faktor keruntuhan dari kerajaan Sriwijaya ? 

maka artikel ini akal membahas sejarah kerajaan Sriwijaya berdasarkan sumber-sumber buku dan juga dari pengalaman masa kuliah, langsung saja kita mulai.

Sejarah Awal

Nama dari kerajaan Sriwijaya sendiri terdiri  dua suku kata yang pertama yaitu Sri yang memiliki arti gemilang atau bercahaya dan wijaya yang memiliki arti kemenangan. 

Jadi Sriwijaya dapat dikatakan sebagai Cahaya kemenangan. Kerajaan Sriwijaya juga memiliki julukan sebagai kerajaan Maritim terbesar di Asia tenggara serta sebagai pusat penyebaran agama Budha.

Kerajaan Sriwijaya juga memiliki nama lain  berupa 'Javadeh' atau 'Yavadesh'. Wilayah Tionghoa juga menyebut Kerajaan Sriwijaya sebagai San fo ts’i, San FoQi atau Shih lii fo shih'.

Selain itu bangsa Arab juga menjuluki kerajaan Sriwijaya dengan sebutan 'Zabaaj'. Berdasarkan dari penelitian kerajaan Sriwijaya ini berdiri pada  abad ke 7 Masehi.

Sumber lain juga berpendapat bahwa kerajaan Sriwijaya telah ada sejak 671 M berdasarkan dari catatan I Tsing seorang biksu yang berasal dari Tiongkok yang mengunjungi Sriwijaya kurang lebih selama 6 Bulan lamanya. 

Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Srijayanasa yang disebutkan dalam beberapa prasasti kerajaan Sriwijaya. Dapunta Hyang berkuasa kurang lebih mulai dari 671 hingga 702 M. 

Sekitar akhir abad ke 7 hingga awal abad ke 8 M. Dapunta Hyang melakukan perjalanan Suci atau Siddhayatra untuk menaklukan wilayah-wilayah yang ada di Sumatera saat itu.

Bahkan Dapunta Hyang juga dipercaya sebagai salah satu penyebab dari keruntuhan Kerajaan Tarumanegara yang berada di Jawa Barat. Pusat kerajaan Sriwijya pada awalnya didirikan sekitar 

wilayah Sabokingking hingga bukit Siguntang sekitar abad ke 7 Masehi hingga abad ke 10 Masehi, Pusat kerajaan kemudian dipindahkan ke wilayah Jambi.

Jalur Perdagangan

Kerajaan Sriwijaya menempati wilayah yang strategis sebagai pusat perdagangan maritim karena letaknya berada di sekitaran Sungai Musi.  

Hingga saat ini Sungai Musi masih menjadi salah satu akses yang digunakan oleh masyarakat yang ada di Sumatera Selatan menuju daerah-daerah yang ada di Sungai Musi.

Mengapa kerajaan Sriwijaya bisa menjadi pusat perdagangan Maritim terbesar hal tersebut karena tidak terlepas dari letaknya yang berada pada teluk-teluk seperti Bangka Riau, 

Selat Sunda dan selat Malaka yang pada saat itu digunakan sebagai jalur perdagangan dari China menuju India sehingga hal tersebut menjadi keuntungan bagi kerajaan Sriwijaya. (Tim Balai Arkeologi Palembang, 1992).

Tonton juga video Asal-usul Nama Indonesia berikut ini lengkap beserta penjelasan.



Adanya perdagangan tersebut menjadikan kerajaan Sriwijaya sebagai wilayah transit dan melakukan kerjasama dagang sehingga perkembangan kerajaan Sriwijaya 

bukanlah kebetulan semata. Kerajaan Sriwijaya membuat pos-pos bagi kapal yang datang dan wajib membayar upeti hal itu juga menambah penghasilan dari kerajaan Sriwijaya.
Sriwijaya
Peta kuno Pulau Sumatera yang menjadi pusat perdagangan Maritim
Pada perkembangannya karena Kerajaan Sriwijaya merupakan tempat transit sehingga membuat orang Cina dan juga India sudah banyak yang menetap di pinggiran sungai musi saat itu. India dan juga China merupakan orang-orang yang giat dalam berdagang.

Komoditi yang diperdagangkan seperti Cengkeh, Pala, Kapulaga, Kayu Cendana, Gading, Timah, Kapur Barus, Penyu, Perak, Kain Sutera hingga emas. Selain itu 

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang memiliki armada laut yang kuat hingga bisa menaklukan berbagai wilayah yang ada di Asia tenggara dari abad ke 7 hingga ke 11 M. 

Puncak Kejayaan Sriwijaya

Puncak kerajaan Sriwijaya ketika masa pemerintahan raja Balaputradewa yang merupakan putra dari Raja Samaratungga dari wangsa Syailendra 812-824 M yang menguasai Jawa. Raja Balaputradewa 

merupakan raja ke 8 dari kerajaan Sriwijaya. Raja Balaputradewa dikenal cakap dan gigih dalam memimpin kerajaan sehingga membuat Sriwijaya mencapai masa Keemasannya. Raja Balaputradewa melakukan kerjasama dengan raja dari kerajaan India yaitu raja Dewapaladewa dari India selatan.
wilayah kekuasaan kerajaan Sriwjaya
Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat pendidikan Agama Budha. Bagi biksu yang mau belajar ke India wajib belajar di kerajaan Sriwjaya kurang lebih hingga 2 tahun. sehingga membuat kondisi kerajaan Sriwjaya sangat ramai dikunjungi oleh 

berbagai penduduk yang berasal ari berbagai penjuru terutama yang ingin belajar ajaran Budha.  Mulai dari Abad ke 8 hingga ke 9 Masehi menjadi masa keemasan dari kerajaan Sriwijaya bersama raja Balaputradewa. Raja kerajaan Sriwijaya antara lain :

  1. Dapunta Hyang Srijayanasa (671)
  2. Sri Indrawarman (702)
  3. Rudra Vikraman (728)
  4. Sri Maharaja (743)
  5. Dharanindra (Rakai Panangkaran) (775)
  6. Samaragragrawira (Rakai Warak) (778)
  7. Samaratungga (Rakai Garung) (782)
  8. Balaputradewa (856)
  9. Sri Udayatidya Warmadewa (960)
  10. Sri Cundami warmadewa (988)
  11. Sri Maharavijaya Tunggawarma (1008)

Keruntuhan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya mengalami keruntuhan oleh berbagai faktor seperti serangan dari kerajaan lain hingga raja yang memerintah tidak cakap.  Keruntuhan tersebut sekitar abad ke 12 M.

Kerajaan Sriwijaya hancur perlahan dari berbagai faktor tersebut sehingga menyebabkan kondisi tersebut tentu melemahkan kekuatan dari kerajaan 
Sriwijaya. 

Kerajaan Sriwijaya mengalami serangan dari Kerajaan Cola Mandala dari India selatan. Kerajaan Cola Mandala di pimpin oleh Rajendra Cola I.

Karena serangan ini kondisi kerajaan Sriwijaya sangat parah banyak tentara yang gugur dan membuat kodisi saat itu semakin sulit karena para pedagang yang tidak singgah ke Kerajaan Sriwijaya karena saat itu kondisi sungai Musi mengalami pendangkalan sehingga menyulitkan kapal-kapal besar yang ingin singgah di pusat kerajaan Sriwijaya.

Hal tersebut menjadi latar belakang pemindahan pusat kerajaan ke wilayah Jambi antara Muara Sabak dan Tembesi namun keruntuhan kerajaan Sriwijaya telah memindahkan kekuasaan ke wilayah Kadaram saat ini Kedah, Malaysia berdasarkan prasasti Tanjore.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan banyaknya kerajaan kecil yang melepaskan diri dari kerajaan Sriwijaya. Karena hal itu sumber pendapat juga berkurang. 

Tidak sampai disitu saja Serangan dari kerajaan Singosari juga membuat kerajaan ini benar-benar mengalami kehancuran serang tersebut juga dikenal sebagai “Ekspedisi Pamalayu”.

Setelah runtuhnya kerajaan Sriwijaya kerajaan ini sempat hilang dan tidak tersentuk dan kembali dikenal ketika George Coedes seorang sejarawan yang berasal dari Prancis yang membahas kerajaan Sriwijaya pada tahun 1918.

Namun Bersama dengan Majapahit para ahli berpendapat bahwa kedua kerajaan ini merupakan kebanggaan nasional mengenai kejayaan masa lampau. 

Masa kecemasaan Sriwijaya menjadi kebanggan Indonesia khususnya masyarakat Palembang.

Kerajaan Sriwijaya telah melahirkan berbagai macam seni budaya salah satunya berupa tarian yang selalu dipakai ketikan acara-acara resmi yaitu Gending Sriwijaya.

Kesenian tersebut diadaptasi oleh Thailand yang melahirkan tarian Sevichai yang sama-sama terinspirasi dari kerajaan Sriwijaya.

Referensi : Buku Siddhayatra dari Balai Arkeologi Palembang dan Bahan Ajar SNI.


Demikian penjelasan mengenai sejarah kerajaan Sriwijaya semoga bermanfaat.


1 Response to "Sejarah Kerajaan Sriwijaya hingga masa keruntuhannya "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel