Sejarah Kesultanan Palembang terlengkap


Setiap peradaban yang ada di dunia ini tentunya tidak akan bisa dilepaskan dengan adanya  peran sungai sebagai faktor penting bagi lahirnya sebuah peradaban.

Adanya sungai yang sangat mempengaruhi perkembangan suatu wilayah salah satu bukti pentingnya air yaitu kota Palembang Sumatera Selatan. Kota Palembang merupakan wilayah yang dikelilingi oleh Sungai yang menghubungkan satu tempat ketempat yang lain.

Peran Sungai sangat vital bagi perkembangan kota Palembang hingga menjadi Bandar dagang di wilayah Nusantara bahkan Asia selama berabad-abad lamanya.

Hal ini menunjukan peran sungai tidak dapat dianggap remeh karena selain digunakan untuk saran transportasi, berdagang, Irigasi dan juga pertahanan membuat wilayah tersebut dapat berkembang pesat menjadi peradaban yang besar.

Hal tersebut memang sesuai dengan julukan kota Palembang sebagai Venesia dari Timur hal tersebut menjadi bukti bahwa kota Palembang memang telah diakui dunia Internasional sebagai salah satu wilayah yang sangat penting bagi sejarah Nusantara.

Ketika berakhirnya masa ke emasan kerajaan Sriwijaya, wilayah Palembang sempat mengalami kekosongan pemerintahan hingga akhirnya menjadi bawahan dari kerajaan Majapahit sejak 1375 M.

Untuk mengisi pemerintahan di Palembang kemudian dikirimlah Ario Dillah sebagai wakil kerajaan Majapahit di Palembang yang pada saat itu Palembang sempat dikuasai oleh Pedangan dari Tiongkok karena Majapahit sempat melupakan wilayah kekuasaannya tersebut.

Ario Dillah saat itu dibantu oleh Pangeran berasal dari Pagaruyung yang bernama Demang Lebar Daun yang berasal dari Sumatera Barat.

Ario Dillah berkuasa pada 1455-1486. Ia juga dikenal sebagai Ario Damar merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V. Ia mendapatkan Istri dari Brawijaya yaitu Putri Champa yang sudah menganut agama Islam pada saat itu.

Ario Dillah merupakan ayah tiri dari Raden Fatah karena ketika beristri dengan Putri Champa sudah dalam kondisi mengandung. Kemudian Arya Dillah yang mengetahui kondisi Majapahit yang sedang tidak stabil kemudian Ia berusahan melepaskan diri dari bawahan Majapahit dan mengganti namanya menjadi Arya Abdillah.

Kemudian Anaknya yang bernama Raden Fatah bersama dengan Raden Kusen pergi ke wilayah Jawa dan mendirikan pemukiaman di desa Bintoro dan pada akhirnya wilayah tersebut menjadi cikal bakal dari kesultanan Demak.

Usaha mereka ini didukung oleh mertuanya yang berasal dari Sunan Ampel dan setelah berhasil Ia dinobatkan sebagai Sultan Demak pertama.

Kesultanan Demak merupakan Kerajaan Islam pertama yang berdiri ditanah Jawa. Bahkan dalam perkembangannya kerajaan Demak berhasil menaklukan kerajaan Majapahit.

Setelah berhasil menaklukan Demak Raden Fatah mendapatkan gelar baru yaitu Senopati Jimbun Abdurrahman.


Ia kemudian menguasai Palembang dengan mengirim orang kepercayaannya yaitu Pati Unus sebagai wakil kesultanan Demak di Palembang. Dikarenakan pada saat itu Ario Dillah sebagai orang tua Raden Fatah meninggal. Pati Unus berkuasa di Palembang pada tahun 1528.

Seperti yang diharapkan kota Palembang menjadi wilayah terbaik yang dikuasai oleh Demak. Kerjasama dagang yang dilakuan dengan kerajaan di Malaka membuat kota Palembang menjadi pelabuhan penting untuk melakukan perdagangan dengan skala besar.

Banyak barang dan komoditi yang diperdagangkan seperti kapas, Emas, Rotan, Beras, Madu, Lilin, Besi, hingga rempah-rempah seperti bawang, Lada dan lain-lain.

Seiring dengan Perkembangannya Kesultanan Palembang terbentuk dari lanjutan dari kerajaan Palembang yang sebelumnya dikuasai oleh Majapahit, Demak, Hingga melakukan aliansi dengan kerajaan Mataram. Berakhirnya kekuasaan Demak di Palembang disebabkan oleh konflik yang terjadi di internal kerajaan Demak antara Hadiwijaya dengan Arya Penangsang kemudian konflik tersebut dimenangkan oleh Hadiwijaya.

Sebagai pengikuti dari Arya Penangsang beberapa orang seperti Priyai dan pengikutnya memutuskan untuk pindah ke wilayah Palembang yang pada saat itu merupakan salah satu wilayah kekuasaan Demak.

Rombongan tersebut dipimpin oleh Ki Gede Ing Suro dan nantinya Ia menjadi penguasa di Palembang mulai dari 1528 hingga 1545. Ki Gede Ing Suro menggantikan Ayahnya yang juga merupakan penguasa di Palembang yaitu Pangeran Sedo Ing Lautan.


Perbedaan kerajaan Palembang dengan Kesultanan Palembang


Sudah kita ketahui sebelumnya bahwa kerajaan Palembang merupakan cikal bakal dari berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam.

Perbedaan yang mendasar dari dua kekuasaan ini adalah sistem pemerintahan meskipun Arya Dillah telah beragama Islam namun pada kesultanan Islam lebih kuat  dan telah terstruktur dalam hal agama karena berpedoman pada syariat islam serta Al-Qur’an dan Hadist sebagai konstitus pemerintahan.

Kesultanan Palembang secara resmi didirikan oleh Ki Mas Hindi Sri Susuhan Abdurrahman Candi Walang Khalifatul Mukmin Sayidul Iman atau Sultan Ratu Abdurrahman Kholifatul Mukmin Sayidul Iman atau sering disebut sebagai Sunan Cinde Walang  sebagai raja pertama dari Kesultanan Palembang pafa 1643-1651.

Ki Mas Hindi merubah corak jawa pada kesultanan Palembanh dan diubah menjadi corak melayu dan juga sesuai dengan ajaran islam.

Ia memimpin kesultan Palembang selama 45 tahun dan telah banyak menerapkan peraturan seperti adanya perwakilan daerah pedalaman yang disebut sebagai Raban dan juga Jenang.

Selain itu ada juga Undang-undang yang wajib dipatuhi oleh daerah atau bagian dari kesultanan Palembang yang disebut sebagai Piagem. Daerah bagian tersebut antara lain :
a. Bangka
b. Palembang
c. Jambi (Muara Tembesi)
d. Bengkulu (Kepahiang/Rejang)
e. Lampung (Tulang Bawang/Mesuji)

Selain itu pada masa Sunan Cinde Walang/ Ki Mas Hindi Kesultanan Palembang  sudah beraliansi dengan taraf Internasional seperti Palembang, Jambi dan Juga Johor (wilayah bagian Malaysia).

Sunan Cinde Walang meninggal pada tahun 1706 dan Ia kemudian digantikan oleh Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago yang berkuasa pada 1706 hingga 1714. Ia merupakan putra dari dari Sunan Cinde Walang.

Sultan Muhammad Masyur merupakan seorang yang memiliki kecakapan dan juga gagah dalam menyelesaikan masalah yang terjadi sehingga kondisi sosial pada masa ia memipin kesultanan Palembang dalam kondisi yang baik.

Hal tersebut berbanding terbalik ketika ia tidak lagi berkuasa, Pangeran Purbaya yang seharunya menggantikanya meninggal akibat dibunuh. Akibatnya Tahta kesultanan di pegang oleh Adik dari Jayo Ing Lago yaitu Sultan Komaruddin Sri Teruno yang berkuasa pada 1714-1724. Akibat keputusan tersebut Putra dari Jayo Ing Lago memberontak mereka adalah Pangeran Mangkubumi Mohammad Ali dan Juga Raden Lembu.

Sehingga Sultan Komaruddin menyerahkan tahtanya kepada Pangeran Mangkubumi Mohammad Ali ia dikenal dengan nama Sultan Anom Muhammad Alimuddin sedangkan Raden Lembu dikenal dengan Pangeran Jayo Wikromo.

Namun hal tersebut menjadi konflik antara dua bersaudara tersebut akibatnya terjadilah konflik yang kemudian dimenangkan oleh Pangeran Jayo Wikromo dan Ia mendapatkan gelar sebagai Sultan Badaruddin Jayo Wikramo (Sultan Badaruddin I)  dan berkuasa pada 1724-1758.

Sultan Badaruddin I dikenal sebagai orang yang memiliki wawasan luas serta memiliki keterampilan dalam pemerintahan, Ia juga memperbarui sistem pemerintahan tanpa merubah pedoman sebelumnya agar Kesultanan Palembang menjadi lebih maju. Pada masa Sultan Badurddin I ia banyak melakukan pembangunan seperti Masjid Agung, Kuta Batu (Kuto Lamo), Makam Lemabang, Tambang Timah di pulau Bangka hingga pembangunan jalur yang menghubungkan wilayah pedalaman saat itu.

Pada masa Sultan Badaruddin I juga penyebaran islam cukup pesat. Setelah Ia meninggal kekuasaan selanjutnya dipegang oleh Sultan Ahmad Najamuddin.

Ia berkuasan pada 1758-1776 pada masa Sultan Ahmad Najamuddin penyebaran Islam semakin pesat hingga kewilayah lain di Nusantara. Kemudian ia digantikan oleh Sultan Muhammad Bahaudin  pada 1776-1804. Pada Masa Sultan Muhammad Bahauddin kekuatan ekonomi kesultan Palembang berkembang pesat.

Akibatny VOC yang merupakan perusahaan dagang dari Belanda tertarik untuk melakukan kerjasama dagang dengan Kesultanan Palembang namun hal tersebut tidak juga terealisasi karena hal tersebut tidak pernah disetujui oleh Sultan Bahauddin karena ia lebih percaya dengan pedagang dari Tiongkok dan juga Inggris serta orang-orang Melayu saat itu. Pada Masa itu kondisi kesultanan Palembang sangat tentram dan juga makmur.

Sultan Bahaudin juga membangun Keraton Kuto Besak dan dinobatkan sebagai keratin terbesar dan termegah yang pernah dibuat di Nusantara. Pada Tahun 1750 hingga 1800an Kesultanan Palembang menjadi pusat dari kesustraan Melayu.

Kemudian pada 1804 Ia digantikan oleh anaknya yaitu Sultan Mahmud Badaruddin II. Pada Masa inilah Perjuangan melawan Kolonial dimulai.

Perjuangan Kesultanan Palembang Pada Masa Kolonial ketika masa Pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II Ia lebih fokus terhadap perlawanan menghadapi Inggris dan juga Belanda yang pada saat itu ingin menguasai wilayah Palembang sebagai tempat yang strategis namun hal tersebut tentunya tidak mudah untuk dlakukan karena pada saat itu Kesultanan Palembang sudah siap tempur bersama rakyat yang ada di daerah-daerah kekuasaan kesultanan Palembang.

Pada saat itu Sultan Mahmud Badaruddin II  membuat pertahanan berlapis-lapis memanfaatkan kondisi alam yang didukung oleh sungai-sungai sehingga pertahanan lebih difokuskan kearah perbatasan antara sungai dan juga laut untuk wilayah Selat Bangka, selat gaspar, Selat Karimata, Selat Berhala, dan Selat Sunda sedangan kota Palembang focus terhadap darat (Infanteri Darat).

Pendirian Benteng-Benteng juga terjadi disetiap wilayah seperti :
1. Benteng di Muara Sumsang
2. Benteng di Selat Borang
3. Benteng di Pulau anyar
4. Benteng Tambak Bayo Plaju
5. Benteng di Pulau Kemaro
6. Benteng di Martopuro
7. Benteng Kuto Lamo
8. Benteng Kuto Besak Benteng Dusun Bailangu
9. Benteng Muara Rawas
10. Benteng Kurungan Nyawo
11. Benteng disekitar Sungai Musi
Beberapa peperangan antara kesultanan Palembang dengan Kolonial yang dikenal seperti Pristiwa Sungai Aur pada 18 September 1811.

Prisitiwa ini bermula dari kontrak Pelunasan dan Pengisian Timah pada tanggal 13 Robiul Awal tahun 1224 H atau 1809 M. Hal tersebut dikarenakan Pihak belanda meminta Timah Putih ditambahkan dalam pengiriman berikutnya ke Pihak Belanda jika tidak kota Palembang akan digempur habisan-habisan oleh Phak Belanda.

Mengetahui hal tersebut Sultan Mahmud Badaruddin II siap melakukan perang karena ia menolak hal tersebut Pihak Inggris yang saat itu dipimpin oleh Thomas Stanford Raffles berusaha untuk mempengaruhi Sultan Mahmud Badaruddin II untuk menghancurkan Loji pihak Belanda di Palembang dan bersedia untuk membantu dengan mengirim mesiu dan juga persenjataan namun Sultan Mahmud patut curiga karena ia tahu bahwa ambisi Inggris dan juga sama yaitu ingin menguasai wilayah Kekuasaan Kesultanan Palembang.

Sultan Mahmud Badaruddin II berperan penting dalam beberapa peperangan lain seperti Perang Palembang pada 1819 dan juga 1821.
Tahta kerajaan kemudian diberikan kepada Sultan Ahmad Najamuddin II atau Sunan Husin Dhiauddin pada 1813-1817 yang merupakan suadara dari Sultan Mahmud Badaruddin II hal tersebut dikarenakan Sultan Mahmud Badaruddin II lebih berfokus pada wilayah di Muara Rawas antara tahun 1813-1818 Ia Juga diasingkan oleh Pihak Belanda karena berhasil ditangkap dan diasingkan ke wilayah Ternate.

Kemudian perjuangan dilanjutkan oleh putranya yaitu Sultan Ahmad Najamudin III dan dikenal dengan nama Pangeran Ratu pada 1919-1921.

Setelah ia Jatuh dari tahta kesultanan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Najamuddin IV dan dikenal dengan Prabu Anom pada 1821-1823 namun pada masa kepemimpinannya Kesultanan Palembang telah jatuh kepihak Belanda karena semenjak Sultan Mahmud Badaruddin II di tangkap dan diasingkan perjuangan rakyat tidak sekuat sebelumnya.

Sultan Ahmad Najamuddin IV juga sempat melakukan pemberontakan namun hal tersebut dapat diredam oleh pihak Belanda dan ia diasingkan ke Manado dan secara resmi pada 17 Oktober 1923 Kesultanan Palembang berakhir dan digantikan dengan sistem Kresidenan.

Pada sistem Kresidenan ini dibagi kedalam beberapa wilayah. Beberapa wilayah Kresidenan tersebut seperti, Palembang, Jambi, Bangka, Lampung dan Bengkulu. Pemimpin Kresidenan adalah Residen yang memiliki tugas seperti pejabat dengan wewenang legislatif, Yudikatif dan juga keuangan.

Residen dibantu oleh dua orang anggota seperti Asisten Residen dan juga Kotrolir sebagai pengawas dan mereka semua adalah orang-orang Belanda.

Jadi Selama masa pemerintahan Belanda di kota Palembang mereka mengawasi segala urusan yang dilakukan guna memperkecil sebuah pemberontakan yang terjadi. Kontrolir Belanda mengangkat orang-orang Pribumi yang diberi nama Demang, Menteri Polisi dan Menteri Pajak (Belasting).

Tugas-tugas mereka dibagi untuk mengawasi beberapa wilayah Afdeeling yang dipimpin oleh Asisten Residen. Onderafdeeling dipimpin oleh Kontrolir serta Distrik yang dipimpin oleh Demang.  Selain itu masih ada lagi Onderdistrik yang dipimpin oleh Asisten Demang.

Ketika Belanda datang semua sistem Politik digantikan dengan kebijak-kebijakan baru yang dibuat untuk kepentingan Belanda. Seperti penguasa tradisional yang dahulu merupakan bawahan dari Sultan Palembang diubah menjadi orang-orang yang digunakan sebagai alat untuk mengekploitasi keuntungan Belanda dan sebagai tangan kanan Belanda yang mengatur langsung perintah kepada masyarakat.

Demikian Sejarah Mengenai Kesultanan Palembang Darussalam jika ada kekurangan mohon maaf dan jika ada pertanyaan dan saran boleh sampaikan di kolom komentar, terima kasih.

Sumber :
Https://KesultananPalembang.Com

Materi Ajar Sejarah Islam Nusantara

Buku Kesultanan Palembang oleh Nawiyanto Eko

Kementrian dan pendidikan republik Indonesia

0 Response to "Sejarah Kesultanan Palembang terlengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel