Sriwijaya itu Kedatuan atau Kerajaan


kali ini kita akan membahas mengenai salah satu penguasa di Sumatera yaitu Sriwijaya sebagai The Great Maritime empire yang ada di Nusantara, sebagai salah satu penguasa tentunya sriwijaya memiliki pemerintahan yang kuat.

wilayah kekuasaan yang luas serta memiliki peninggalan-peninggalan yang tersebar keberbagai wilayah kekuasaannya, dibalik nama besar tersebut selalu membuat para ahli dan juga sejarawan tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai sejarah dari Sriwijaya.

Lalu muncul sebuah pertanyaan  apakah benar Sriwijaya itu merupakan sebuah kedatuan dan bukti apa saja yang mendukung pernyataan tersebut, untuk mengetahuinya simak  penjelasan berikut ini.

Baiklah kita mulai dari sejarah awal penemuan Sriwijaya terlebih dahulu.

Setelah mengalami kerutuhan Sriwijaya seakan kehilangan eksistensinya bahkan nama Sriwijaya sempat hilang dan dilupakan selama beberapa abad setelah keruntuhan, sebelum akhirnya berubah ketika muncul penelitian yang dilakukan pada tahun 1918 atau awal abad ke 20.

Yang membuat Sriwijaya mulai menampakkan cahayanya kembali, melalui sebuah karya tulis hasil dari yang bersumber dari  penelitian yang dilakukan oleh George Codes beserta Louis Charles Damais dan dibantu oleh beberapa lembaga penelitian.

Peryataan mengenai kerajaan Sriwijaya yang umumnya kita ketahui saat ini Sebenarnya lahir dari pernyataan Goerge Codes melalui hasil penelitiannya yang sudah dipercaya selama kurang lebih 102 tahun.

Julukan  The Great Maritime Empire tentunya bukanlah sebuah  isapan jempol belaka karena Sriwijaya sendiri memiliki banyak sekali nama seperti

srivijaya. Srivisaya, Shilifoshi, Foshih, Sanfoqi, Sribhoja, Sribuza, Zabaag, Zabaaj, Siwichai dan Swarnabhumi yang sebenarnya merupakan penamaan bagi satu kekuasaan yang ada di Sumatera bagian selatan yaitu Sriwijaya.

Hal ini tentu saja menjelaskan betapa besar dan megahnya Sriwijaya pada masa kejayaannya hiingga d kenal luas dan memiliki berbagai julukan.

Melalui karya tulis pertamanya yang berjudul “Loroyaoume de Srivijaya” membuat dunia tersentak dan sejak saat itulah awal mula nama Sriwijaya dikenal kembali hingga saat ini.
kilas balik mengenai awal mula dikenalnya Siriwjaya ?

Penelitian yang dilakukan oleh George codes dan Louis Charles damais ternyata memiliki hubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Hendrick Kern melalui karya tulisnya yang berjudul

“De Inspriptie Van Kota Kapur” yang membahas mengenai penemuan sebuah prasasti di kota kapur Bangka, pada bulan desember 1892 M yang ditemukan oleh JK Van Der Maulen.

Prasasti ini dipercaya sebagai pertama kalinya prasasti yang membahas mengenai kedatuan sriwijaya ditemukan.

Pada penelitian yang dilakukan oleh George Codes dan Louis Charles Damais yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Ecole francaise d'Extremc-Orient.

Mendapatkan beberapa bukti-bukti mengenai sriwijaya atau yang kita kenal umumnya adalah Kerajaan Sriwijaya.

Lalu siapa itu George Coedes dan juga Louis Charles Damais hingga kita bisa mempercayai hasil penelitian mereka tersebut ?

Jadi George Codes dan Louis Charles Damais, ternyata mereka merupakan ahli Epigrafi di wilayah Asia Tenggara yang saat itu dianggap sebagai ilmuwan yang paling terkenal di Asia Tenggara.

George Codes menuntut ilmu di University Sorbon di Paris dan juga Berlin la sangatlah berminat pada ilmu epigrafi yang kemudian merupakan bagian terbesar dari karya-karyanya.

Pada tahun 1918 ia  menjadi anggota dari Ecole francaise d'Extreme-Orient dan pada tahun 1918 Ia menerbitkan tulisan mengenai kerajaan Sriwijaya .

Sedangkan Louis Charles Damais sejak kecil tidak memiliki riwayat pendidikan Namun ketika usia remaja  ia memiliki minat yang kuat terhadap bahasa dan juga peninggalan-peninggalan sehingga pada saat ia mencoba bergabung dengan Ecole Natillune des Lenguaes Orientales.

Ia diterima karena memiliki bakat dan juga kemampuan yang sudah terlihat terutama dalam hal penerjemahan bahasa. Ia mendapatkan Sertifikat untuk beberapa bahasa seperti Arab, Turki, Parsi, Melayu dan juga Cina.

Ia Juga menguasai beberapa bahasa lain sepeti rusia, italia, Inggris dan belanda namun dalam melakukan penelitian ia lebih tertarik ke wilayah Asia tenggara dan menetap dijakarta pada hingga tahun 1952 dan mendirikan Pusat penelitian EFEO di kota Jakarta.

Lalu bagaimana hasil dari penemuan george Codes dan Louis Charles Damais ini apakah dapat diterima oleh para ahli?

Para ahli atau Sejarawan pada umumnya sepakat terhadap hasil penelitian dari George Codes dan juga Louis Charles Damais  dan tidak ada keraguan mengenai Sriwijaya sebagai penguasa maritime di Nusantara yang berdiri pada abad ke 7 M.

Dan Palembang merupakan ibukota pertama dari Sriwijaya namun dalam beberapa hal Sriwijaya dipindahkan ke wilayah Jambi menjelang akhir keruntuhannya.

Hal ini sudah sesuai dengan bukti-bukti lain yang ditemukan. Sehingga bedasarkan hasil penelitian mereka sriwijaya masuk sebagai salah satu materi pembalajaran.

Namun ada Sedikit revisi pada era modern saat ini bahwa para ahli sejarah dunia telah menemukan berbagai macam fakta baru bukan mengenai letak namun penamaan kerajaan Sriwijaya yang dirasa kurang tepat.

Mengapa Hal tersebut bisa terjadi ?

Ternyata pada penelitian terbaru didapatkan sebuah fakta-fakta baru mengenai Sriwijaya yang merupakan sebuah negara maritime dan menguasai jalur

perdagangan, serta memiliki sistem pemerintahan monarki yang dipimpin oleh seorang datu. Datu tertinggi dinamakan sebagai datu Maharaja dibawahnya terdapat datu mandala dengan wilayah kekuasaan yang dinamakan sebagai Mandala.

Sriwijaya lebih tepat dinamakan Kedatuan atau kedaton yang berarti kedudukan datu yang berasal dari bahasa sansekerta.

Bukti kuat Sriwijaya sebagai kedatuan dapat dilahat pada prasasti telaga batu, dan juga prasasti kota kapur.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari Bambang Budi Utomo sebagai arkeolog senior yang telah melakukan penelitian mengenai sriwijaya sejak tahun 1992.

Ia menyatakan bahwa Sriwijaya merupakan satu-satunya kerajaan yang memiliki akte kelahiran hal tersebut dapat dilihat pada prasasti kedukan bukit serta dijelaskan mengenai sriwijaya yang telah memiliki sistem pemerintahan sendiri.

Ia juga menjelaskan mengenai I Tsing yang datang ke Sriwijaya bukanlah utusan dari Kaisar China namun seorang biksu yang ingin belajar ke Nalanda, India, namun ia harus singga terlebih dahulu Untuk memenuhi kebutuhan dan juga pembekalan di Sriwijaya selama 6 bulan.

Selain itu beliau juga menjelaskan pada prasasti kedukan bukit tertanggal 16 juni 682 saka yang menandai dibangunnya sebuah perkampungan di wilayah sumatera selatan.

 Prasasti Talang tuo tertanggal 23 Maret 684 Saka yang menandai dibangunnya tama Sri Ksetra dan juga menjelaskan Pada prasasti telaga Batu yang berisi mengenai pejabat-pejabat dari Kedatuan Sriwijaya yang disumpah.

Selain itu  Berdasarkan sumber yang saya kutip dari Sri Buddha-Bukan Sriwijaya, menyatakan Sriwijaya adalah kerajaan adalah sebuah kekeliruan sehingga harus dibenarkan.

Hal ini lah yang menyebabakn mengapa Sriwijaya banyak sekali versi yang menyatakan bahwa ibukota kota Sriwjaya itu ada di Palembang, Jambi, hingga Perbatasan antara Malaysia dan juga Thailand.

Pendapat tersebut diperkuat berdasarkan hasil dari peneltian catatan I Tsing yang menyatakan sriwjaya sebagai Kuo’ yang pada saat itu berarti menyatakan sebagai suatu kelompok  masyarakat yang teraturan dan memliki sebuah kepemimpinan,

Berikut ini beberapa pendapat dan kesimpulan mengenai kedatuan Sriwijaya :

Menurut Sejarawan Inggris yang berasal dari Universitas Corneel Ow Wolter, Sriwijaya merupakan sebuah federasi dari berbagai macam pelabuhan dagang yang ada di wilayah asia tenggara dan fungsinya lebih mirip sebagai kekaisaran dan bukan kerajaan.

Sedangkan menurut Hermann Kulke, Seorang sejarawan asal jerman mengemukakan bahwa Sriwijaya merupakan suatu bentuk kekuasaan yang unik dan khas di Asia tenggara dan disebut sebagai kedatuan bukan kerajaan.

Yang dipimpin oleh pemimpin melayu yang berhasil memperluas kekuasaannya lebih dari pada wilayah yang ia kuasai sehingga banyak wilayah yang tergabung dalam kedatuan tersebut.

Pendapat tersebut juga mendapat dukungan dari Pierre Yves Manguin seorang professor dari lembaga ilmu asia di Prancis EFEO yang

menyatakan bahwa Sriwjaya adalah sebuah negara kota yang maju dan memiliki wilayah yang luas dan dimpinpin oleh sebuah pemimpin (Komando) tertinggi.

Casparis sebagai ahli bahasa kuno juga menyatakan berdasarkan hasil penelitiannya di Prasasti telaga batu yang mengutip kata Huluan yng berarti menyatakan sebagai suatu tempat dimana terdapat sebuah hubungan antara penguasa dan wilayah taklukannya dengan cara berperang untuk menaklukannnya.

Selain itu Casparis juga menyebut kata kedatuan sebagai bentuk kekaisaran bukan kerajaan.

Ok demikian pembahasa mengenai Sriwijaya saya menyimpulkan berdasarkan apa yang  sudah saya pelajari dari berbagai macam sumber dan pendapat dari para ahli baik di Indonesia maupun Dunia.

Saat ini yang terpenting bagi kita adalah memiliki rasa peduli terhadap peninggalan-peninggalan leluhur agar tidak hilang ditelan oleh kemajuan zaman. Jika ada kekurangan dan saran dapat kalian sampaikan dikolom komentar, Saya Delta Salam JASMERAH.

0 Response to "Sriwijaya itu Kedatuan atau Kerajaan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel