Sejarah Kerajaan Galuh berdasarkan Cerita Parahyangan


Indonesia sejatinya adalah negara yang  kaya dan juga memiliki banyak potensi yang sangat sulit untuk ditemukan di negara lain. Salah satu kekayaan Indonesia adalah keberagaman yang menjadi ciri khas dari setiap wilayah yang ada di Indonesia.

Kondisi tersebut juga didukung oleh letak geografis dan juga bentang alam yang subur hal ini membuat sulit ditemukan ditempat lain.

Keragaman tersebut juga sudah terihat sejak zaman kerajaan yang meninggalkan banyak sekali peninggalan-peninggalan dari kerajaan yang ada di tanah Indonesia. Hal tersebut merupakan bukti dari betapa kayanya Indonesia kita ini.

Salah satunya seperti kerajaan Sunda Galuh yang ada di Jawa Barat. Sesuai dengan judul kali ini kita akan membahas mengenai Sejarah dari kerajaan Galuh serta bukti-bukti yang sudah ditemukan berdasarkan sumber primer dan juga sekunder.

Kerajaan Galuh terbentuk dari kerajaan yang sebelumnya merupakan satu kesatuan dari kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini didirikan oleh raja yang bernama Writikandayun pada 669 M.

Kerajaan ini Kemudian melepaskan diri dari Kerajaan Kendan yang pada saat itu merupakan bagian dari kerajaan Tarumanegara.

Kerajaan Galuh hingga saat ini belum terungkap secara lengkap dan juga komperhensip dikarenakan keterbatasan sumber-sumber primer yang menceritakan kerajaan ini serta kurangnya perhatian dari pemerintah daerah untuk mengkaji lebih jauh mengenai kerajaan ini.

Selain itu kerajaan Galuh juga sebagian di dapat dari sumber sekunder seperti Ceritera yang dituliskan setelah kerajaan Galuh mengalami keruntuhan dan tidak pada zaman yang sama. Hal inilah yang menyebabkan kerajaan ini belum sepenuhnya terungkap.

Terlepas dari hal tersebut, sudh banyak bukti kuat mengenai kerajaan ini lalu bagaimana sejarah dan perkembangan kerajaan Galuh hingga menjadi salah satu penguasa di tanah pasundan berikut adalah penjelasannya berdasarkan Cerita dari Parahiyangan yang ditulis dalam bahasa Sunda sekitar abad ke 16 M.

Awal berdirinya kerajaan Galuh

Kerajaan Galuh merupakan kerajaan Hindu terakhir yang berkuasa di Jawa Barat. Letak kerajaan ini berada di wilayah Karangkamulyan atau kabupaten Ciamis saat ini.

Arti nama Galuh adalah Batu Permata menurut bahasa Sansekerta. Galuh juga bisa diartikan sebagai bagian yang paling keras, dan juga bermakna sebagai penguasa. Selain itu Galuh juga bisa diartikan sebagai Ratu yang belum menikah.

Penamaan tersebut bukan tanpa alasan karena masyarakat sunda pada saat itu memiliki keyakinan yang kuat terhadap sebuah istilah sehingga nama Galuh dianggap paling cocok dan memiliki filosofis yang kuat.

Nama kerajaan Galuh tidak sepopuler nama kerajaan lainnya khususnya yang berada di Jawa Barat. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pemerintah daerah untuk mengkaji lebih jauh mengenai kerajaan Galuh ini, Hingga masih minimnya sumber primer yang ditemukan.

Selain itu orang zaman dahulu hanya menyebutkan kata Sunda sebagai penyebutan untuk kerajaan-kerajaan yang berdiri di Jawa Barat setelah keruntuhan kerajaan Tarumanegara.

Hal ini juga sempat diragukan oleh Budayawan kondang asal Betawi yaitu Ridwan Saidi, Beliau meragukan keberadaan kerajaan Galuh yang mengatakan bahwa kerajaan ini adalah kerajaan fiktif.

Babe (nama panggilan) meragukan kerajaan ini dalam beberapa faktor seperti kondisi ekonomi yang menyebuktkan bahwa tidak terdapat Bandar dagang di wilayah Ciamis saat itu, selain itu menurut kamus dari bahasa Armenia menyebutkan kata Galuh berarti Brutal.

 Tentu saja pendapat tersebut langsung mendapatkan respon dari budayawan dan juga orang-orang sunda yang menyatakan bahwa ridwan saidi masih kurang memahami sejarah dan tidak bisa mengaitkan bahasa Armenia dengan bahasa Sunda dikarenakan hal tersebut tidak sesuai dengan konotasi dari masyarakat sunda.

Akan tetapi dalam klarifikasinya Ridwan Saidi meminta maaf kepada rakyat Jawa Barat dan menarik kembali ucapannya tersebut. Oleh sebab itu agar tidak terjadi keraguan dan juga penyimpangan

diharapkan kita sebagai generasi penerus patutnya mempelajari sejarah dan budaya negeri kita agar kedepan kita bisa tau dan menghargai peninggalan-peninggalan dari leluhur kita.

Kembali ke poin utama, kerajaan Galuh memiliki luas kekuasaan mulai dari Jawa Barat, Banten, Jakarta dan sebagaian provinsi di Jawa Tengah saat ini. Kerajaan Galuh berdiri setelah melemahnya kerajaan Tarumanegara dan akhirnya penguasa terakhir dari kerajaan Tarumanegara

Yaitu Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa yang memiliki anak perempuan yang bernama Déwi Manasih dan Sobakancana.

Anak sulungnya Dewi Manasih kemudian menikah dengan Tarusbawa dan Putri bungsunya Sobakencana menikah dengan Dapunta Hyang Srijayanasa yang nantinya merupakan penguasa Maritim terbesar di Nusantara melalui kerajaan Sriwijaya.

Setelah kerajaan Tarumanegara kehilangan Sri Maharaja Linggawarman tahta kerajaan kemudian diberikan kepada menantunya yaitu Tarusbawa dan kemudian kerajaan tersebut berubah nama menjadi kerajaan Sunda.

Akan tetapi kerajaan tesebut tidak bertahan lama karena Penguasan dari kerajaan Galuh yaitu oleh writikandayun yang tergabung di kerajaan Sunda bekas kerajaan Tarumanegara ini melakukan pemberontakan dan menggap Tarusbawa tidak akan bisa mengembalikan kejayaan dari kerajaan Tarumanegara. Akibatnya muncul kerajaan baru yang bernama kerajaan Galuh.

Writikandayun berhasil menjadi raja pertama dari kerajaan Galuh ia dibantu oleh sekutunya dari kerajaan Kalingga yang berada di Jawa Tengah karena letaknya yang dekat dengan pusat kerajaan Galuh membuat hal tersebut akan saling menguntungkan bagi kedua kerajaan nantinya.

Kemudian Putra Mahkota dari kerajaan Galuh yang bernama Amara namun dikenal dengan julukan Mandiminyak yang kemudian berjodoh dengan putri yang bernama Purwati puteri anak dari Maharani Mahissasuramardini atau yang dikenal dengan nama Ratu Shima selaku ratu dari kerajaan kalingga.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Galuh
Berbeda dengan kerajaan umumnya pada pemerintahan kerajaan Galuh memiliki ciri khas tersendiri karena pemerintahan dijalankan oleh 3 penguasa walaupun tetap memiliki seorang raja yang mutlak seperti Prabu,Rama dan juga Resi hal ini dikenal dengan nama Tri tangtu Buana.

Tingkat kedudukan seperti Prabu sebagai orang yang memiliki kekuasaan utama sedangkan Rama sebagai penasihat dan Resi adalah sebagai orang yang menghukum atau pengadil dan letaknya diluar pusat kerajaan.

Masa Pemerintahan Raja Writikandayun
Pada saat Writikandayun memerintah di kerajaan Galuh tidak ada konflik yang terjadi hal ini tercatan dalam cerita Parahiyangan bahwa Writikandayun sebagai raja dari kerajaan Galuh yang berkuasa pada 612-702 M sangat adil dan berwibawa sehingga kerajaan Galuh tidak terjadi konflik yang berarti.

Namun hal tersebut mulai berubahan setelah Writikandayun meninggal. Ia meninggal pada umur 111 Tahun dan tahta kerajaan Galuh kemudian jatuh kepada anak bungsunya yaitu Amara atau Mandiminyak.

Hal inilah yang membuat konflik karena Writikandayun memiliki 3 orang anak dan seharusnya anak pertamalah yang dijadikan penerus dari Writikandayun.

Hal tersebut dikarenakan Writikandayun lebih mempercayai Mandiminyak sebagai sosok yang tepat dibandingkan kedua kakaknya terlebih lagi kedua saudaranya mengalami kecacatan fisik sejak lahir. Akhirnya kedua kakanya menjadi Resi di kerajaan Galuh.

Masa Pemerintahan Mandiminyak
Kerajaan Galuh pada masa pemerintahan Mandiminyak tidak berjalan lama karena pada masa pemerintahan Mandiminyak sering melakukan hal-hal yang melanggar aturan dan menyimpang. Hal tersebut karena Ia merupakan anak kesayangan dari raja Writikandayun .

Sosok Mandiminyak dikenal sebagai raja yang cakap dan juga tampan namun terkadang kelakuannya yang sulit diterima oleh keluarga kerajaan Ia melahirkan anak dari hubungan gelapnya dengan Rababu yang merupakan istri dari kakanya.

 Anak tersebut bernama Sena atau dikenal juga dengan Bratasenawa. Mandiminyak meninggal pada 709 Masehi kemudian tahtanya jatuh kepada anak yangb berasal dari hubungan gelapnya yaitu Sena. Sejak saat itulah kerajaan Galuh mulai mengalami sebuah konflik antara penurus tahta kerajaan.

Konflik yang terjadi di Kerajaan Galuh
Setelah Mandiminyak wafat tahta jatuh kepada Sena dan hal ini juga menimbulkan konflik karena Purbasora selaku anak dan juga cucu dari Wretikandayun ini merasa lebih berhak

memerintah kerajaan Galuh karena menggap sena bukanlah anak yang sah karena hasil dari hubungan gelap dari mandiminyak dengan Rababu sebagai istri dari kakaknya.

Akibatnya konflik pun tidak dapat dihindarkan Purbasora meminta bantuan kepada Indraprahasta yang berkuasa di Cirebon untuk membunuh Sena namun upaya tersebut mengalami kegagal karena Sena sudah mengetahui hal tersebut dan Ia kemudian lari ke kerajaan Sunda untuk meminta perlindungan.

Kemudian kerajaan Galuh dipimpin oleh raja yang bernama Rakiyang Jabring atau dikenal dengan nama Sanjaya yaitu anak dari Sanaha dan juga Sena. Maharaja Sanjaya merupakan raja ke lima di kerajaan Galuh karena ia berhasil

membalaskan dendam ayahnya sehingga Ia membunuh seluruh keluarga dari Purbasora namun tidak membunuh cucu dari Purbasora dan juga menantunya.

Daftara Raja yang Pernah berkuasa di Kerajaan Galuh
1. Wretikandayun (534-592) Saka / (612-670) Masehi

2. Mandiminyak/ Suraghana (624-631) Saka/ (702-709) M.

3. Senna atau Sanna 631-638 Saka/ (709-716) M

4.Purbasura (638-645) Saka/ (716-723) M.

5.Sanjaya, Rakai Mataram (645-654) Saka/ (723-732) M

6.Tamperan (654-661) Saka/ (732-739/) M

7.Manarah alias Ciung Wanara(661-705) Saka/ (740-784) M.

8.Manisri alias Lutung Kasarung (705-721) Saka/ (783-799/800) M

9.Tariwulan (721-728) Saka/ (799/800-806) M

10.Welengsa (728-735) Saka (806-813) M

11.Prabhu Linggabhumi (735-774) Saka/ (813-852) M

12.Danghyang Guru Wisuddha (774-842) Saka/ (852 -920) M

13.Prabhu Jayadrata (843-871) Saka/ (921-949) M

14.Prabhu Harimurtti (871-888) Saka/ (949/50-966/7) M

15.Prabhu Yuddhanagara (888-910) Saka/ (966/7-988/9) M

16.Prabhu Linggasakti (910-934) Saka/ (988/9-1012/3) M

17.Resiguru Dharmmasatyadewa (934-949) Saka (1012/3-1027/8) M

18.Prabhu Arya Tunggalningrat (987-1013) Saka/ (1065/6-1091/2) M

19.Resiguru Bhatara Hyang Purnawijaya (1013-1033) Saka/ (1091-1111) M

20.Bhatari Hyang Janawati (1033-1074) Saka/ (1111/2-1152/3) M

21.Prabhu Dharmmakusuma (1074-1079) Saka/ (1152/3-1157/8) M

22.Prabu Guru Darmasiksa (1097-1219) Saka/ (1157/8-1297/8)M

23.Rakeyan Saunggalah (1109-1219) Saka/ (1167/8-1297/8) M

24.Maharaja Citragandha (1225-1233) Saka/ (1303/4-1311/2) M

25.Maharaja Linggadewata (1233-1255) Saka/ (1311/2-1333/4) M

26.Maharaja Ajiguna (1255-1262) Saka/ (1333/4-1340/1) M

27.Maharaja Ragamulya (1262-1272) Saka/ (1340/1-1350/1) M

28.Maharaja Linggabhuwana (1272-1279) Saka/ (1350/1-1357/8 M

29.Mangkubhumi Suradhipati (1279-1293) Saka/ (1357/8-1371/2) M

30.Mahaprabu Niskala Wastu Kancana
(1293-1397) Saka/ (1371/2-1475/6) M

31.Dewa Niskala atau Ningrat Kancana (1397-1404) Saka/ (1475/6-1482/3 M

Sumber : Data Pemerintah Kota Ciamis

Bukti Peninggalan Kerajaan Galuh 

1.Prasasti Rakryan Juru Pangambat pada 932 M
2.Prasasti Sang Hyang Tapak 1dan 2 pada 1030 M
3.Naskah Parahiyangan pada 16 M
4.Naskah Cina pada zaman dinasti Ming

Sebenarnya masih banak bukti mengenai kerajaan Galuh namun beberapa bukti diataslah yang dianggap paling kuat dalam menjelaskan mengenai sejarah kerajaan Galuh yang cukup lengkap. Semoga informasi ini bermanfaat, Salam JASMERAH.

0 Response to "Sejarah Kerajaan Galuh berdasarkan Cerita Parahyangan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel