Sejarah Wali Songo lengkap beserta penjelasannya

Haii assalamulaikum wr. wb, apa kabarnya, sobat historian, kali ini kita akan membahas mengenai sejarah dari wali songo, lengkap beserta penjelasannya, mulai arti dari wali songo, latar belakang, seperti nama asli/silsilah, peninggalan wali songo hingga makam dari para wali songo tersebut.

Kisah mengenai Wali Songo ini bukanlah dongeng atau cerita fiktif belaka, melainkan sejarah yang benar-benar terjadi pada zamannya, sehingga fakta sejarah ini jangan sampai kita lupakan. peninggalan peninggalan walisongo ini juga maaih ada hingga saat ini, dan masih bisa kita saksikan langsung mulai dari bangunan, makam dan lain-lain.




Zaman Wali Songo ini menandakan berakhirnya dominasi agama Hindu dan juga Budha di Nusantara, dan digantikan oleh agama islam. Meski banyak tokoh lainnya yang berperan dalam penyebaran agama Islam di nusantara, khususnya pulau Jawa, Namun Wali Songo sudah dianggap sebagai simbolnya. Karena mereka memiliki andil yang besar dalam penyebaran islam hingga berhasil berdirinya sejumlah kerajaan Islam di pulau Jawa.

Pada umumnya Wali Songo ini berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa dimulai pada tahun 808 H atau pada abad ke 14 M. Ada tiga wilayah yang menjadi lokasi para wali untuk menyebarkan dakwahnya di Pulau Jawa yakni, Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Tuban untuk wilayah Jawa Timur. Sedangkan Demak, Kudus, dan Muria di wilayah Jawa Tengah dan yang terakhir di daerah Cirebon di Jawa Barat.

A. Arti dan Makna dari Wali Songo

Penamaan Wali Songo ini diambil dari bahasa Jawa, sedangkan dalam bahasa Indonesia Wali Songo ini berarti wali yang sembilan atau Sembilan Wali, yang menandakan jumlah para wali tersebut berjumlah sembilan orang.

Namun ada pendapat lainnya yang mengatakan bahwa songo/sanga adalah turunan dari bahasa Arab tsana, yang berarti mulia. Ada juga yang menyebutkan bahwa Wali Songo adalah sebuah majelis dakwah kreasi dari Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim di tahun 1404 M. 

Dalam perkembangannya Wali Songo ini
tak hanya berdakwah saja. Wali Songo juga memberikan dampak bagi budaya baru yang ada di masyarakat Jawa. Seperti kesehatan, bercocok tanam, perdagangan, kebudayaan, seni, kemasyarakatan hingga pemerintahan.




B. Nama Asli dan Riwayat Para Wali Songo


1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

Sunan Gresik atau Sunan Thandes adalah keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah keturunan ke-22 dari Rasulullah SAW. Nasab Maulana Malik Ibrahim tercatat dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang merupakan kumpulan catatan dari As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini.

Ia Lahir di Samarkand, Uzbekistan,
di Asia Tengah, Sunan Gresik banyak
dianggap sebagai wali yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Selain berdakwah, beliau juga mengajarkan cara baru bercocok tanam untuk mengambil hati masyarakat kebanyakan, yakni mereka yang tersisihkan pada akhir kekuasaan Majapahit. Karena Krisis ekonomi dan juga perang saudara saat itu banyak membuat masyarakat Jawa menderita.

Sunan Gresik membangun pondokan sebagai tempat menimba ilmu agama di Leran, Gresik untuk memenangkan hati masyarakat. Sebagai pelengkap,
ia juga membangun masjid untuk tempat beribadah. Masjid ini adalah masjid pertama di Pulau Jawa dan masih berdiri hingga sekarang. Nama masjid tersebut adalah Masjid Jami’ Gresik. Sunan Gresik wafat di tahun 1419 dan dimakamkan di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.

2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

Riwayat mengatakan bahwa Sunan Ampel adalah anak dari Ibrahim Zainuddin Al-Akbar. Ibunya adalah seorang putri Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Champa Terakhir dari Dinasti Ming.

Meski bukan yang pertama menyebarkan Islam di Tanah Air, Sunan Ampel dianggap sesepuh oleh para wali lainnya. Ia memiliki pesantren di Ampel Denta, Surabaya yang menjadi pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Beliau memiliki ajaran yang terkenal yakni, Moh limo atau tidak main judi, Moh Ngombe atau tidak minum minuman keras, Moh maling tidak mencuri, dan Moh Madon tidak Berzina.
Beliau diperkirakan wafar pada 1481 di Demak dan ia dimakamkan di dekat Masjid Ampel, Surabaya.

3. Sunan Bonang atau Maulana Makhdum Ibrahim

Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Semasa hidupnya, Sunan Bonang kerap berdakwah melalui kesenian agar bisa menarik masyarakat Jawa untuk memeluk agama Islam.

Pernah mendengar lagu Wijil atau Tombo Ati yang dipopulerkan oleh Opick? Kedua lagu tersebut adalah hasil karya Sunan Bonang lho.

Untuk menambah unsur Islami dalam lagu-lagu yang digubahnya, Sunan Bonang memasukkan rebab dan bonang sebagai pelengkap dari gemelan Jawa. Oleh sebab itulah ia mendapatkan julukan Sunan Bonang. Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525 dan dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.

4. Sunan Drajat atau Radem Qasim

Selain Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang, Raden Qasim yang juga putra dari Sunan Ampel dikenang oleh masyarakat di seluruh Tanah Air sebagai Sunan Drajat. Dalam misinya untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, ia menggunakan kegiatan sosial sebagai ujung tombaknya.

Ia mempelopori penyantunan anak-anak yatim dan orang-orang sakit. Selain itu Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat umum. Ia sangat mengedepankan sikap dermawan, kerja keras dan meningkatkan kemakmuran rakyat sebagai pengamalan agama Islam.

Beliau Wafat di tahun 1522, Sunan Drajat memiliki banyak peninggalan berarti
Seperti Pesantren Sunan Drajat di Desa Drajat, Paciran, Lamongan. Ia juga meninggalkan Gamelan Singomengkok, alat musik yang sering ia mainkan. Kini gamelan tersebut disimpan di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan.

5. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq

Sunan kudus memiliki nama lengkap Ja'far Shadiq, beliau adalah cucu dari sunan ampel dan Putra dari Sunan Ngundung bersama dengan Syarifah Ruhil.

Berbeda dibandingkan dengan Wali Songo sebelumnya yang pada umumnya langsung menyentuh masyarakat umum untuk menyebarkan agama Islam,
Sunan Kudus memiliki andil yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak.
Perannya adalah sebagai panglima perang, penasihat untuk Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim.

Target dakwah Sunan Kudus kebanyakan berada di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Peninggalan Sunan Kudus yang terkenal hingga saat ini adalah Masjid Menara Kudus. Masjid ini memiliki keunikan karena arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus banyak dipercaya oleh masyarakat wafat pada 5 mei tahun 1550 di kudus dan dimakamkan disana.

6. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin

Sunan Giri adalah keturunan langsung dari Maulana Ishaq dan keturunan ke 23 Nabi Muhammad SAW. Selama hidupnya, ia menimba ilmu Islam dari Sunan Ampel dan bersahabat dengan Sunan Bonang. Peran besarnya dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa adalah mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik.

Pemerintahan inilah yang selanjutnya memiliki peran sebagai pusat dakwah Islam untuk wilayah Jawa dan Indonesia Timur hingga ke Maluku. Anaknya, Sunan Giri Prapen berhasil menyebarkan Islam hingga ke Lombok dan Bima. Sunan Giri diperkirakan Wafat pada tahun 1506 dan dimakamkan di desa giri, keboman, gresik.

7. Sunan Kalijaga atau Raden Said

Raden Said atau Sunan Kalijaga adalah anak dari adipati Tuban bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Beliau lahir pada tahun 1455.
Beliau mempelajari Agama Islam dari Sunan Bonang sebagai gurunya. Dari Sunan Bonanglah ia belajar menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam.karena ia adalah orang pribumi asli sehingga lebih mudah dalam bsedakwah dengan masyarakat serta menggunakan kesenian tradisional sebagai metode berdakwahnya.

Kesenian yang kerap ia gunakan untuk berdakwah adalah wayang kulit dan tembang suluk. Banyak masyarakat yang memercayai bahwa tembak suluk Lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul adalah hasil karya Sunan Kalijaga. Beliau wafat pada tahun 1586, artinya beliau memikiki umur panjang yakni 131 tahun, ia dimakamkan di Kadilangu, kota Demak,Jawa Tengah.

8. Sunan Muria atau Raden Umar Said

Raden Umar Said atau Sunan Muria adalah anak dari Sunan Kalijaga dan Dewi Sarah. Namanya, Muria, diperkirakan oleh masyarakat sekitar Kota Kudus berasal dari nama gunung, yakni Gunung Muria. Gunung Muria itulah tempat di mana kini Sunan Muria dimakamkan.

Gaya dakwah Sunan Muria pada umumnya mengambil metode yang digunakan ayahnya, Sunan Kalijaga, yakni menggunakan kesenian. Namun, Sunan Muria lebih senang tinggal jauh dari hiruk pikuk kota dan tinggal di daerah terpencil untuk menyebarkan agama. Ia juga turut mengajarkan cara bercocok tanam,
jual beli dan melaut kepada rakyat jelata.

Sunan Muria dioerkirakan wafat pada tahun 155q dan dimakamkan di daerah Mhria Jawa Tengah.

9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

Syarif Hidayatullah adalah anak dari Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Ayahnya lain lagi, nama ayah Sunan Gunung Jati adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, tokoh Mesir keturunan Bani Hasym dari Palestina. Sunan Gunung Jati belajar agama dari berbagai negara. Sejak usia 14 tahun, ia sudah belajar agama dari para ulama di Mesir.

Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya seorang wali yang menjadi kepala pemerintahan. Ia mendirikan Kasultanan Cirebon atau dikenal dengan Kasultanan Pakungwati dengan restu dari para ulama lainnya untuk menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak.
Ia memanfaatkan posisinya untuk menyebarkan agama Islam dari pesisir Cirebon hingga ke pedalaman Pasundan.

Di usia ke 89 tahun, Sunan Gunung Jati mengundurkan diri dari pemerintahan
agar lebih fokus untuk berdakwah.
Tampuk kekuasaan pun diserahkan pada Pangeran Pasarean. Ia meninggal di tahun 1568 pada usia 120 tahun dan dimakamkan di Gunung Sembung, Gunung Jati.

Demikianlah, Materi tentang Kisah dan cerita Sejarah dari Wali Songo beserta dengan silsilah dan juga peninggalannya, Semoga informasi ini bisa bermanfaat. 





0 Response to "Sejarah Wali Songo lengkap beserta penjelasannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel