Sejarah Wali Songo lengkap beserta penjelasannya

Sejarah Wali Songo lengkap beserta penjelasannya

Sejarah-wali-songo

Hai Assalamulaikum Wr. Wb, apa kabarnya, sobat historian, semoga kita selalu dalam lindungan ALLAH SWT, Aamiin. kali ini kita akan membahas mengenai sejarah dari wali songo, lengkap beserta penjelasannya, mulai arti dari wali songo, latar belakang, seperti nama asli/silsilah, peninggalan wali songo hingga makam dari para wali songo tersebut.

Berdasarkan dari berbagai sumber yang sudah saya baca dan dapat saya tarik kesimpulan bahwa, Sejarah dan juga peran dari para Wali Songo ini bukanlah hanya sebuah dongeng atau hanya cerita fiktif belaka, melainkan sebuah kejadi bersejarah yang benar-benar adanya dan hal tersebut terjadi pada zamannya.

BACA JUGA: Bagaimana Sejarah Perkembangan Pesantren di Indonesia

Sehingga fakta-fakta sejarah ini jangan pernah sampai kita lupakan begitu saja, karena siapa lagi kalau bukan kita. Bahkan hal ini dapat kita lihat dari berbagai  peninggalan peninggalan dari para walisongo ini dan hingga saat ini pun masih ada  mulai dari bangunan, makam, Kebudayaan dan lain-lain.



Zaman Wali Songo ini juga telah menjadi bukti bahwa berakhirnya dominasi agama Hindu dan juga Buddha yang ada di Nusantara, dan hal tersebut kemudian digantikan oleh agama islam. Namun meski banyak dari tokoh-tokoh lainnya yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Nusantara.


khususnya untuk di pulau Jawa, Namun nama Wali Songo ini sudah dianggap sebagai simbolnya. Bahkan mereka ini memiliki andil yang sangat besar dalam penyebaran agama islam hingga berhasil berdirinya kerajaan Islam yang ada di pulau Jawa.

Dan pada umumnya Wali Songo ini berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa sudah dimulai pada tahun 808 H atau pada abad ke 14 M. Dan terdapat tiga wilayah utama yang menjadi lokasi para wali ini untuk menyebarkan dakwahnya di sekitar Pulau 
Jawa yaitu: 
  • Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Tuban untuk wilayah Jawa Timur. 
  • Demak, Kudus, dan Muria di wilayah Jawa Tengah 
  •  Cirebon di Wilayah di Jawa Barat.

A. Arti dan juga Makna dari Wali Songo

Penamaan Wali Songo ini diambil dari bahasa Jawa, sedangkan dalam bahasa Indonesia Wali Songo ini berarti wali yang sembilan atau Sembilan Wali, yang menandakan jumlah para wali tersebut berjumlah sembilan orang.

Namun ada juga pendapat lainnya yang mengatakan bahwa songo/sanga adalah merupakan sebuah turunan dari bahasa Arab yaitu tsana, yang berarti mulia. Ada juga yang menyebutkan bahwa Wali Songo adalah sebuah majelis dakwah kreasi dari Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1404 M. 

BACA JUGA: Karya sastra Peninggalan kerajaan Islam beserta contohnya

Dalam perkembangannya Wali Songo ini tak hanya berdakwah saja. Karena Wali Songo juga memberikan dampak bagi budaya baru yang ada di masyarakat Jawa. Seperti kesehatan, bercocok tanam, perdagangan, kebudayaan, seni, kemasyarakatan hingga bentuk dan juga sistem pemerintahan.


B. Nama Asli dan Riwayat Para Wali Songo

1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

Sunan Gresik dikenal juga dengan nama Sunan Thandes beliau merupakan silsilahnya ia adalah keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah keturunan yang ke ke-22 dari Rasulullah SAW. 


Bahkan Nasab dari Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim ini tercatat dalam Ensiklopedi 'Nasab Ahlul Bait' yang merupakan kumpulan catatan-catan dari As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini.

Sunan Gresik ini Ia lahir di wilayah Samarkand, Uzbekistan, di Asia Tengah, Sunan Gresik sudah banyak yang beranggapan bahwa beliau sebagai wali yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Selain untuk berdakwah, beliau juga mengajar cara baru untuk bercocok tanam agar dapat mengambil hati masyarakat kala itu, terutama bagi mereka yang tersisihkan pada akhir kekuasaan Majapahit. Karena Krisis ekonomi dan juga perang saudara saat itu banyak membuat masyarakat Jawa kala itu sangat menderita.

BACA JUGA: Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia

Kemudian Sunan Gresik juga telah membangun pondok sebagai tempat untuk menimba ilmu agama di wilayah Leran, Gresik Jawa Timur. Hal ini jug digunakan untuk memenangkan hati masyarakat dan Sebagai pelengkapnya, Beliau juga kemudian membangun masjid sebagai tempat untuk beribadah. 

Dan Masjid ini adalah masjid pertama yang ada di Pulau Jawa dan masih berdiri hingga sat ini. Nama dari masjid tersebut adalah Masjid Jami, Gresik. Kemudian Sunan Gresik wafat di tahun 1419 dan dimakamkan di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.

2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

Berdasarkan Riwayat Sunan Ampel adalah anak dari Ibrahim Zainuddin Al-Akbar. Dan Ibunya adalah seorang yang asalnya dari putri dari Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Champa Terakhir dari Dinasti Ming.

Meski bukan yang pertama menyebarkan Islam di Tanah Air, Sunan Ampel telah dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Ia memiliki pesantren di Ampel Denta, Surabaya yang menjadi pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. 

Beliau memiliki ajaran yang terkenal yakni, Moh limo atau tidak main judi, Moh Ngombe atau tidak minum minuman keras, Moh maling tidak mencuri, dan Moh Madon tidak Berzina. Beliau diperkirakan wafat pada tahun 1481 di wilayah Demak dan ia kemudian dimakamkan di dekat Masjid Ampel, Surabaya.

3. Sunan Bonang atau Maulana Makhdum Ibrahim

Selanjutnya Sunan adalah Bonang, Beliau adalah putra dari Sunan Ampel dan juga Nyai Ageng Manila. Dan semasa hidupnya, Sunan Bonang ini kerap kali berdakwah melalui kesenian agar bisa menarik masyarakat Jawa untuk memeluk agama Islam. Apakah kalian Pernah mendengar lagu Wijil ataupun Tombo Ati yang dipopulerkan oleh Opick? Nah Kedua lagu tersebut adalah hasil karya Sunan Bonang lho.

Kemudian untuk menambah unsur Islami dalam lagu-lagu yang ia populerkan tersebut, Kemudian Sunan Bonang juga memasukkan alat musik seperti rebab dan juga bonang sebagai pelengkap dari gemelan Jawa. Oleh sebab itulah ia kemudian mendapatkan julukan Sunan Bonang. Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525 M dan kemudian dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.

4. Sunan Drajat atau Radem Qasim

Selain Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang, Raden Qasim yang juga putra dari Sunan Ampel dikenang oleh masyarakat di seluruh Tanah Air sebagai Sunan Drajat. Dalam misinya untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, ia menggunakan kegiatan sosial sebagai ujung tombaknya.

Ia mempelopori penyantunan anak-anak yatim dan orang-orang sakit. Selain itu Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat umum. Ia sangat mengedepankan sikap dermawan, kerja keras dan meningkatkan kemakmuran rakyat sebagai pengamalan agama Islam.

Beliau Wafat di tahun 1522, Sunan Drajat memiliki banyak peninggalan berarti
Seperti Pesantren Sunan Drajat di Desa Drajat, Paciran, Lamongan. Ia juga meninggalkan Gamelan Singomengkok, alat musik yang sering ia mainkan. Kini gamelan tersebut disimpan di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan.

5. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq

Sunan kudus memiliki nama lengkap Ja'far Shadiq, beliau ini merupakan seorang cucu dari sunan ampel dan  juga Putra dari Sunan Ngandung dan istrinya yaitu  Syarifah Ruhil. Beliau dikenal sedikit berbeda dibandingkan dengan Wali Songo sebelumnya yang pada umumnya langsung menyentuh masyarakat umum untuk menyebarkan agama Islam, Sunan Kudus diketahui memiliki andil yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak. Perannya adalah sebagai panglima perang, penasihat untuk Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan juga sebagai hakim.

Kemudian target dakwah dari Sunan Kudus ini kebanyakan berada di kalangan kaum penguasa dan juga para priyayi Jawa. Dan Selanjutnya Peninggalan  dari Sunan Kudus yang paling terkenal hingga saat ini adalah dengan berdirinya Masjid Menara Kudus. 

Masjid ini cukup memiliki keunikan karena arsitekturnya yang bergaya campuran antara Hindu dan Islam. Berdasarkan catatat sejarahnya Sunan Kudus dipercaya wafat pada 5 mei tahun 1550  di wilayah kudus dan beliau juga dimakamkan disana.

6. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin

Yang ke 6 adalah Sunan Giri, beliau  merupakan keturunan langsung dari Maulana Ishaq dan juga keturunan yang ke 23 dari Nabi Muhammad SAW. Bahkan Selama hidupnya, ia telah menimba ilmu Islam dari Sunan Ampel dan juga bersama dengan sahabat beliau yaitu Sunan Bonang. Sunan Giri dikenal karena peran besarnya dalam membantu perkembangan Islam di Pulau Jawa adalah dengan mendirikan pemerintahan mandiri di wilayah Giri Kedaton,Gresik.

Kemudian pemerintahan inilah yang selanjutnya memiliki andil atau peran sebagai pusat dakwah agama Islam untuk wilayah Jawa dan Indonesia Bagian Timur hingga ke Maluku. Beliau juga memiliki anak, beliau dikenal sebagai Sunan Giri Prapen dan ia kemudian berhasil menyebarkan Agama Islam hingga ke wilayah Lombok dan juga wilayah di Bima. Sunan Giri kemudian diperkirakan Wafat pada tahun 1506 dan dimakamkan di desa giri, keboman, Gresik.

7. Sunan Kalijaga atau Raden Said

Kemudian ada Raden Said atau dikenal juga sebagai Sunan Kalijaga. Beliau adalah anak dari Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau dikenal juga sebagai Raden Sahur. Sunan kalijaga lahir pada tahun 1455. Beliau ini dikenal dalam mempelajari Agama Islam dari Sunan Bonang sebagai gurunya. 

Dan dari Sunan Bonang ia belajar dalam menggunakan kesenian dan  juga keragaman dari kebudayaan sebagai alat untuk menyebarkan dakwah agama Islam. Dan karena ia adalah satu-satunya orang pribumi asli sehingga lebih mudah dalam menyampaikan dakwahnya melalui kesenian tradisional tersebut.

Alat atau Kesenian yang kerap beliau gunakan dalam berdakwah adalah wayang kulit hingga tembang suluk. Hal ini dikarenakan juga banyak dari masyarakat yang mempercayai bahwa tembak suluk, Lir-Ilir hingga lagu dari Gundul-Gundul Pacul tersebut merupakan hasil karya dari Sunan Kalijaga. Kemudian Beliau duiperkirakan wafat pada tahun 1586, Sehingga jika kita hitung kembali maka beliau ini memikiki umur yang  sangat panjang yakni mencapai 131 tahun, hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan orang saat ini. Beliau dipercaya  dimakamkan di wilayah Kadilangu, kota Demak,Jawa Tengah.

8. Sunan Muria atau Raden Umar Said

Yang ke 8 adalah Raden Umar Said atau dikenal juga sebagai Sunan Muria. Beliau adalah anak dari Sunan Kalijaga dan juga istrinya yaitu Dewi Sarah. Pengambilan dari nama Muria ini diperkirakan oleh masyarakat sekitar Kota Kudus yaitu berasal dari nama gunung yang ada diwilayah tersebut yaitu Gunung Muria. Bahkan Gunung Muria itu merupakan tempat di mana Sunan Muria dimakamkan.

Beliau dikenal dengan Gaya berdakwah yang hampir mirip dengan metode yang digunakan ayahnya yaitu Sunan Kalijaga, Beliau berdakwah menggunakan alat kesenian tradisional. 
Namun, Bedanya adalah Sunan Muria ini malah lebih senang jika harus tinggal jauh dari 
hiruk pikuk keramaian alias suka dengan ketenangan. Sehingga beliau lebih memilih untuk tinggal di daerah terpencil setelah ia selesai dalam menyebarkan agama Islam atau Berdakwah. 

Bahkan peran beliau ini tidak hanya sampai disitu saja, karena Beliau juga turut mengajarkan cara bercocok tanam, jual beli bahkan sampai cara melaut kepada rakyat. Sunan Muria ini kemudian wafat pada tahun 1552 dan dimakamkan di wilayah Muria, Jawa Tengah.

9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

Yang ke 9 adalah Syarif Hidayatullah atau dikenal pula sebagai Syarif Hidayatullah, Beliau adalah anak dari Nyai bernama  Rara Santang, dan merupakan putri dari raja Pajajaran yaitu Raden Manah Rarasa. 

Ayahnya Sedangkan nama ayah dari Sunan Gunung Jati adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, yang merupakan tokoh Mesir keturunan dari Bani Hasym yang berasal dari Palestina. 

Sunan Gunung Jati ini diketahui telah banyak belajar agama dari berbagai negara. Bahkan dari sejak usia yang ke 14 tahun, Beliau ini sudah pernah belajar agama dari para ulama-ulama besar yang ada di Mesir.

Sunan Gunung Jati juga merupakan satu-satunya wali yang pernah menjadi kepala pemerintahan atau sitilahnya Pemimpin. Hal ini dikarenakan beliau ini juga merupakan orang yang mendirikan Kasultanan Cirebon atau dikenal dengan nama lainnya yaitu Kasultanan Pakungwati. Hal ini juga berdasarkan dari keputusan dari para ulama lainnya. Hal ini juga  bertujuan untuk menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro di Demak.

Beliau juga memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin ini untuk menyebarkan agama Islam dari wilayah pesisir yang ada di Cirebon hingga ke pedalaman Pasundan. Namun karena ia merasa sudah semakin renta, akhinrya ketika usianya yang  ke 89 tahun, Sunan Gunung Jati ini kemudian mengundurkan diri sebagai pejabat pemerintahan. 

Hal ini beliau lakukan agar agar lebih fokus untuk berdakwah. Dan kemudian kekuasaan dipercayakanm kepada Pangeran Pasarean. Sunan Gunung Jati dipercaya meninggal di tahun 1568 pada usia yang ke 120 tahun dan dimakamkan di Gunung Sembung, Gunung Jati.


Demikianlah, Materi tentang sedikit Kisah Sejarah dari Wali Songo beserta dengan silsilah dan juga peninggalannya, Jika ada kesalahan saya mohon maaf dan kepada ALLAH SWT. saya mohon ampun dan sekirannya ada saran ataupun pertanyaan dapat disampaikan dikolom komentar ya, Semoga informasi ini bisa bermanfaat. 
Load comments