Sejarah R.A Kartini Singkat beserta Pendidikannya

Sejarah R.A Kartini Singkat beserta Pendidikannya

SEJARAH R.A KARTINI

Deltabuana.com-Sejarah Hari Kartini beserta Penjelasannya, Tapi sebelum kita membahasa lebih jauh saya ucapkan selamat Hari kartini kepada seluruh perempuan-perempuan tangguh di Indonesia. 

Jadilah versi terbaik dari diri kalian sendiri, buatlah hidup kalian menjadi lebih berwarna dengan Semangat R.A. Kartini yang selalu membara.

Semoga dengan peringatan ini bisa menjadi penanda bagi seluruh perempuan Indonesia untuk terus semangat dalam mengejar cita-cita dan impianmu itu.đŸ’ªkarena seperti kata R.a Kartini dalam kutipannya:

"Banyak hal yang bisa nmenjatuhkanmu, tapi satu-satunya yang benar-benar bisa menjatuhkanmu adalah Sikapmu sendiri".

Ok, jadi langsung aja kita kepembahasannya ya. Dimulai dari Sejarah R.A Kartini Hingga sejarah diperingatinya R.A Kartini sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

1.Sejarah R.A Kartini  

Sebagai sosok dari tokoh pahlawan perempuan yang sangat menginspirasi, penggagas emansipasi wanita, dan menjadi tokoh yang akan selalu menjadi panutan bagi para perempuan sepanjang zaman ini. 

Sehingga hal ini bisa kembali mengingatkan bahwa jasa R.A Kartini, pasti akan membuat setiap perempuan Indonesia hingga saat ini.

Beliau memliki nama lengkap yaitu Raden Adjeng Kartini atau lebih sering disingkat menjadi R. A. Kartini. Ia merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Sosok beliuan ini kemudian dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita pribumi di Indonesia, yang kita kenal saat ini. 

R.A. Kartini lahir di Jepara, pada 21 April tahun 1879. Beliau berasal dari keluarga priyayi atau bangsawan Jawa. Beliau merupakan putri dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M. A. Ngasirah. Sang ibu merupakan istri pertama namun bukan yang utama.

Kala itu, sang ayah merupakan seorang Wedana (kepala wilayah administrasi kepemerintahan di antara kabupaten dan kecamatan). Saat itu terdapat beberapa kebijakan dari pemerintah Belanda, seperti jika ingin menjadi pejabat seperti bupati, maka ayah Kartini ini tentu harus menikah dengan keturunan priyayi juga.

Sementara M. A. Ngasirah hanyalah orang biasa. Ibunya Kartini itu merupakan anak dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, yang merupakan guru agama di Telukawur, Jepara. Sedangkan sang ayah masih berada di garis keturunan Hamengkubuwono VI.

Namun karena saat itu situasi keluarga yang seperti itu, ayah Kartini pun memutuskan untuk menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura. Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara.

Kartini kecil berbeda dengan anak-anak perempuan di kampungnya. Ia mendapatkan kesempatan sekolah bagus. Kartini menempuh pendidikan di ELS (Europese Lagere School) hingga usianya memasuki 12 tahun. 

Namun setelah itu, ia dipingit di rumah saja, Karena pada masa itu ada tradisi wanita Jawa harus tinggal di rumah dan dipingit. Terlebih ia adalah anak dari,Priyayi.

Selama sekolah di ELS, Kartini belajar Bahasa Belanda. Karena bisa berbahasa Belanda tersebut, di rumah pun Kartini tetap belajar dan berkirim surat kepada teman-teman korespondensi dari Belanda. 

2. Dikenalnya Kartini melalui Tulisan

Salah satunya adalah Rosa Abendanon dan Estelle "Stella" Zeehandelaar. Bahkan, beberapa kali tulisan dari Kartini inj dimuat dalam majalah De Hollandsche Lelie.

Dari berbagai buku, majalah, dan surat kabar Eropa, Kartini mulai tertarik dengan cara berpikir wanita-wanita Eropa yang lebih bebas dan maju ketimbang wanita-wanita pribumi kala itu. 

Dari sanalah kemudian munculah niatan dalam hatinya untuk memajukan para perempuan pribumi yang dinilai masih memiliki tingkat sosial yang rendah.

Karena kondisinya dipingit, tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan Kartini di luar rumah. Namun, bukan berarti dia berdiam diri. Aktivitas dari surat-menyurat Kartini menjadi pun menjadi senjata bagi perjuangannya. 

Surat-surat yang itu ditulisnya menjadi lebih banyak yang berisi keluhan-keluhan tentang kehidupan wanita pribumi khususnya Jawa yang sulit untuk maju.

Salah satunya seperti kebiasaan wanita harus dipingit, tidak bebas menuntut ilmu, dan juga adat yang mengekang kebebasan perempuan.

Dalam tulisannya Kartini menginginkan emansipasi, kepada seorang perempuan harus memperoleh kebebasan dan kesetaraan baik dalam kehidupan maupun di mata hukum.

Kartini juga mengungkit isu agama seperti poligami dan alasan mengapa kitab suci harus dihapal dan dibaca tapi tidak perlu dipahami.

Bahkan, ada kutipan dari Kartini yang berkata, “Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu.”

Daya nalar Kartini makin matang. Ketika ia menginjak usia 20 tahun, Kartini membaca buku-buku karya Louis Coperus (De Stille Kraacht), Van Eeden, Augusta de Witt, Multatuli (Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta) serta berbagai roman-roman beraliran feminis. Semuanya menggunakan bahasa Belanda.

Namun tinggal di Jepara membuat Kartini merasa tidak begitu berkembang. Dengan fasilitas yang dimiliki keluarga, ia pun kemudian ingin melanjutkan sekolah ke Jakarta atau ke Belanda. 

Tapi pada saat itu orangtuanya tidak mengizinkan Kartini, namun tidak melarang Kartini untuk menjadi seorang guru.

Hal inilah yang membuat Kartini kemudian mengurungkan niatnya dan tetap menjalani hidupnya di Jepara. Pada usia 24 tahun, ia diminta orangtuanya untuk menikah. 

Kartini juga menyetujui dan menikah dengan K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, 12 November 1903. Suaminya adalah Bupati Rembang yang telah memiliki 3 istri.

Meski sudah menjadi istri, Kartini tetap bersemangat ingin menjadi guru dan mendirikan sekolah. Keinginan Kartini disambut baik suaminya. 

Kartini memperoleh kebebasan dan didukung penuh untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang.

Setahun menikah, Kartini kemudian dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. 

Namun, empat hari setelah melahirkan, ajal menjemputnya. Kartini meninggal pada 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Ia dimakamkan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Meskipun sudah lama meninggal, namun perjuangan Kartini ini lewat surat-suratnya memiliki arti penting bagi kedudukan wanita Indonesia. Salah satunya adalah melalui buku “Habis Gelap Terbitlah Terang".

Sehingga Berkat jasanya tersebut kemudian membuat R. A. Kartini kemudian ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada era pemerintahan Soekarno dengan dasar hukum Keppres No.108 Tahun 1964 yang ditetapkan pada 2 Mei 1964 dan menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. (AC/DN).

Berikut ini adalah urainan singkatnya.

KELUARGA
Orang Tua : Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat
? M.A. Ngasirah
Pasangan : K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
Anak : Soesalit Djojoadhiningrat

PENDIDIKAN
ELS (Europese Lagere School).
Load comments