Situs Percandian Bumi Ayu sebagai aset wisata Daerah Kabupaten PALI

Situs Percandian Bumi Ayu sebagai aset wisata Daerah Kabupaten PALI

Situs percandian Bumi Ayu PALI


Situs percandian Bumi ayu sebagai aset wisata yang ada di kabupaten PALI

Deltabuana.com-Halo sobat sejarah kali ini kita akan membahas salah satu aset wisata yang ada di Kabupaten PALI yaitu Kompleks percandian Bumiayu yang berada di tepian Sungai Lematang di desa Bumiayu kecamatan Tanah Abang Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir atau PALI.

Situs Candi Bumiayu ini ternyata memiliki berbagai macam keunikan dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang ada di Indonesia loh, hal ini dikarenakan Situs Bumi Ayu ini memiliki aliran yang bernama Tantrayana.

Aliran tantrayana merupakan suatu kepercayaan yang berasal dari India kuno yang bertujuan untuk memuja kepada ibu di lembah Sungai indus.

Di Indonesia sendiri aliran tantrayana ini terdapat di beberapa daerah seperti padang Lawas Sumatera Utara padang ronco dan situs Sungai Langsat di Sumatera Barat dan juga situ Bumi Ayu.

Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah penjelasan mengenai candi Bumi Ayu yang ada di Desa Bumi Ayu Kabupaten PALI.

Sejarah awal ditemukannya Candi Bumi ayu

Situs Bumiayu Ini pertama kali ditemukan oleh E.P. Thombrink pada tahun 1864 ketika ia berkunjung ke Sungai Lematang Ulu dan menemukan beberapa arca sebanyak 26 buah dan diantaranya terdapat Nandi.

Sedangkan di Sungai Lematang Ilir dia juga menemukan sesuatu runtuhan candi yang dekat dengan Dusun Tanah Abang saat ini. Penemuannya tersebut berbentuk seperti relief burung kakaktua yang sekarang telah disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Penemuan selanjutnya sekitar tahun 1904 olehA.J eh. Knaap seorang kontrolir yang berasal dari Belanda ia menemukan and1 runtuhan bangunan di wilayah dekat Sungai Lematang dengan tinggi sekitar 1,75 Cm dan dipercaya bawah reruntuhan bangunan tersebut merupakan bekas dari suatu keraton yang bernama Gedebong Undang.

Selanjutnya pada tahun 1936 F.M. Schnitger kembali menemukan 3 buah roh Tuhan batal yang telah mengalami kerusakan serta dia juga menemukan beberapa Arca Siwa dan juga dua buah kepala kala serta terdapat pecahan dari Arca singa juga berapa bata yang memiliki hiasan bercorak burung.

Situs yang berada di desa Bumiayu ini memiliki luas sekitar 15 hektar yang dikelilingi oleh Sungai Lematang beserta dengan anak-anak Sungainya. Situs Bumiayu ini kemudian diteliti oleh para ahli baik yang berasal dari Indonesia maupun luar negeri.

Kemudian pada tahun 1993 dari pusat penelitian arkeologi nasional telah melakukan penelitian di situs percandian Bumiayu ini.

Pada penelitian tersebut didapatkan gundukan gundukan tanah yang berisikan bentuk dari struktur bata dan diurutkan berdasarkan dengan waktu penemuannya yaitu candi Bumi Ayu 1 hingga 10.

Terdapat beberapa candi yang telah dipugar yaitu khusus di candi 1, tu 2,3,7 dan juga 8. Sedangkan untuk beberapa apa julukan tanah masih belum dan tertimbun oleh tanah.

Menurut para ahli diperkirakan dalam pembangunannya situs percandian Bumiayu ini berlangsung dalam dua tahapan yang pertama dimulai sejak abad ke-9 M.

Hal ini dikarenakan adanya orang-orang berasal dari Jawa yang memiliki kekuasaan di Sumatera sehingga ketika mereka berkuasa turut mempengaruhi pembangunan.

Contohnya seperti arca-arca yang memiliki rambut keriting sampai dengan ke bahu dan mengenakan kain panjang dengan hiasan Wiru di bagian tengah kainnya(Sulaeiman 1985:385).

Sehingga hal ini memperkuat asumsi dari para ahli karena arca-arca memiliki bentuk dari persamaan dengan arca-arca yang di pulau Jawa terutama pada abad ke-9 M.

Dan pada masa pembangunan selanjutnya Candi Bumi Ayu ini dipengaruhi oleh aliran tantrayana hal ini dikarenakan bentuk dari Arca nya memiliki raut wajah yang berbeda terutama jika dibandingkan dengan arca di Candi 1.

Arca-arca pada candi Bumi ayu ini terutama yang beraliran tantrayana digambarkan dalam penampakan yang seram, hal ini dikarenakan dihubungkan dengan ritual dari aliran tantrayana tersebut.

Sehingga aliran Tatrayana ini dikenal sangat kental dengan ilmu sihir, bersemedhi dan juga mengucapkan mantra-mantra.

Terdapat suatu upacara penting dalam aliran tantrayana ini yang bernama Bhairawa yang dilakukan diatas kesetra yang berarti halaman kuburan atau tempat jenazah sebelum dibakar.

Bahkan tak hanya menemukan arca dan juga beberapa gundukan tanah situs Candi Bumiayu ini juga terdapat pecahan tembikar dan juga keramik yang diperkirakan berasal dari masa dinasti song dan juga Yuan sekitar abad ke-11 hingga ke-13 M.

Selain itu ditemukan lembaran kertas yang terbuat dari bahan emas dengan tulisan //Om Yam//-(soekarto 1993:3-5).

Materi ini belum selesai karena masih ada kesibukan di dunia nyata 😷
Load comments